Time is Flow

Showing posts with label Cerita Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Fiksi. Show all posts

Friday, 22 February 2013

Scandal of Jul Park - Part 3


Previous
Scandal of Jul Park - Part 1
Scandal of Jul Park - Part 2

Dari matanya dia menjawab itu dengan tulus tanpa rasa jijik sedikitpun kepadaku dan dia tidak lekas bergegas pergi, melainkan tetap di sini bersamaku, perkiraanku salah dengan menganggap dia hanya melihatku dari status sosialnya. 

"mmmm, kalo boleh tau, tadi kata Mas Rangga, mas Rangga teriak karena lagi suntuk? dan memang aku lihat mas Rangga lagi ada masalah? masalah apa sih yang lagi mas alamin sampai-sampai membuat kegaduhan di sini?"

Lagi-lagi Rangga tersenyum mendengar perkataanku "huuffhhh gimana yaa" ucap Rangga sembari berjalan ke arah bangku semen yang biasa ku jadikan tempat tidurku, lalu kemudian dia duduk di bangku itu dan dengan bahasa isarat dari tangannya menyuruhku untuk duduk di sebelahnya.

Jantungku kembali berdegup dibuatnya setelah tadi sempat kembali normal, dan aku duduk perlahan disebelahnya. Aroma tubuhnya yang tercium olehku menandakan bahwa kami duduk berdampingan yang kurang lebih hanya berjarak satu jengkal. Tentu saja jantungku teresonansi, ini untuk pertama kalinya aku duduk bersebelahan dengan seorang pemuda tampan dan dapat dilihat dari penampilannya bahwa dia termasuk golongan di tingkat atas, kalau jaman kolonial dulu disebutnya tingkat bangsawan. 

Selama aku hidup, mana ada pemuda seperti mas Rangga ini yang mau duduk berdampingan denganku, untuk berpapasan saja mereka tak sudi. Sambil melihat angkasa dan meletakkan tangannya pada bangku untuk menyanggah bahunya sejajar dengan lehernya, setela menghela nafas mas Rangga berkata

"Hidup itu keras ya Jul, mungkin jadi sepertimu lebih enak karena tidak mempunyai pilihan untuk menentukan hidup yang sedang dan akan kamu jalani, hidup untuk memilih itu suatu hal yang membebankan.. membebankan hidup" 

setelah menyelesaikan perkataannya mas Rangga kembali menghela nafas dan kemudian terdiam. Aku menatap kearahnya, aku belum bisa percaya mas Rangga berkata seperti itu kepada orang yang baru dikenalnya, kepadaku, yang hanya gembel di taman ini 

"Pasti hidupmu tidak ada beban, benarkan Jul?" lanjutnya. 

Apa yang dia pikirkan bahwa hidupku tidak ada beban, dia salah total, gembel sepertiku pasti memiliki beban yang lebih berat dari orang-orang kaya semcam dia, pikiranku yang ingin selalu menjadi orang kaya saja sudah membuat beban berat di kepalaku, 

"Mas Rangga salah besar, hidup tanpa beban bukanlah hidup, semua orang dalam hidupnya pasti punya beban, dan saya pun begitu, kalo mas Rangga tau mencari uang untuk makan sehari saja rasanya itu beban yang luar biasa bagi saya. Bagaimana bisa mas Rangga berkata seperti itu kepada saya?" 

Rangga terdiam dan hanya tersenyum sambil sesekali melihat ke arahku dan kemudian kembali menatap angkasa. 

"Memangnya pilihan apa yang sedang mas Rangga pikirkan untuk mas Rangga pilih? sampai-sampai disebut sebagai beban berat" ucapku memecah keheningan. 

Tiba-tiba handphonnya mas Rangga berdering 

"Hallo selamat sore.... sekarang Pak?.... baik-baik sekitar 20 menit lagi saya sampai disana... okee.. iyaaa.. terimakasih" 

telpon pun terputus. Setelah mas Rangga memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya, dia berkata 

"Okkee Jul sepertinya saya harus pergi sekarang, kapan-kapan kita ngobrol lagi, kamu setiap hari di sini terus kan?" 

aku hanya mengangguk, mendapati jawabanku mas Rangga kemudian pergi ke arah mobil yang diparkirkannya di pinggiran taman. Melihat langkahnya yang semakin menjauh dariku entah kenapa membuat dada ini sesak, kenapa aku takut kehilangannya kenapa aku takut tidak akan bertemu dengannya lagi, 

"Senang bertemu dengan mu Jul...!!" 

teriak Rangga sambil melambaikan tangannya ke arahku saat dia ingin memasuki mobilnya. Aku hanya tersenyum dan membalas lambaian tangannya. Kemudian dia pun berlalu dan lenyap dari pandangan mataku.

****

Sore telah berganti malam, tanpa terasa aku sudah 3 jam hanya duduk di bangku ini setelah Rangga pergi.. "hufffhhh... ada apa dengan perasaan ini?" gerutuku. Tiba-tiba saja ada yang memanggilku dan membuyarkan lamunanku "Jul..?" aku pun menoleh kearah suara tadi, ternyata Oma, namanya aku tidak tahu siapa, hanya ku panggil Oma saja. Sudah sebulan ini ia tinggal di rumah anaknya yang baru saja melahirkan buah hati pertamanya juga sekaligus cucu pertama buat si Oma 

"oohh Oma, kirain siapa, ada apa Oma? keran di rumah bocor lagi?" tanyaku.

Dua minggu yang lalu aku jadi tukang ledeng di rumah si Oma, benerin keran dapur Oma yang rusak, lumayan bayarannya bisa untuk makan dua hari. Kemandirianku membuat aku dapat mengerjakan beberapa pekerjaan kasar, yaa salah satunya benerin keran air yang rusak. 

Oma tersenyum, "Dari beranda rumah Oma, Oma liat kamu dari tadi cuma duduk-duduk saja disini setelah kamu melambaikan tanganmu ke arah pemuda yang naik mobil tadi, dia temanmu?" 

Rangga.. kenapa Oma menanyakan Rangga, berarti tadi Oma sempat melihat Rangga, hmmm, desisku dalam hati.

"Bukan Oma, dia cuma pengunjung baru taman ini, Oma kesini cuma mau nanyain itu aja?", 

Oma memberiku sebuah bungkusan "engga, Oma mau kasih ini, nasi goreng buat makan malam sama puding coklat buat pencuci mulutnya, cucu Oma baru aja tidur, lucunya dia". 

Aku mengambil bungkusan itu, lumayan untuk mengisi perutku malam ini. Yaa inilah aku, untuk makan saja perlu meminta belas kasihan orang lain. Tapi aku tidak pernah menjadi tukang minta-minta di jalan lagi sejak 5 tahun lalu, Eyang Uti yang mengajariku untuk tidak mendapatkan sesuatu tanpa memberikan apapun, bahkan sekecil apapun yang dari kita punya. Jadi untuk mendapatkan uang aku kadang-kadang menyumbangkan suaruku, atau bahasa kasarnya ngamen. Kadang sesekali aku jadi tukang parkir di toko-toko daerah sini, terkadang juga jadi kurir antar makanan dari restoran di samping taman karena pegawainya sedang tidak masuk kerja atau bahkan sampai benerin keran air di rumah Oma. Yaa apapun itu, semua pekerjaan bisa aku lakukan untuk mendapatkan uang. 

"waahh makasih banyaakk Oma, cacing diperutku sudah berteriak-teriak minta diisi" jawabku sambil mengelus-elus perut, hmm bahkan karena memikirkan Rangga aku sampai tak berfikir untuk mencari makan walaupun tanpa disadari aku lapar. 

"kalo gitu Oma pulang dulu yaaa, mau liat si kecil tidur, hayoo dihabiskan makanannya",

"iyaa Ommmaaaa... :D" ucapku dengan sumringah.

Setelah Oma membalikkan badannya langsung saja kulahap habis semua makanan yang Oma kasih. "aaahhhh kenyangnyaa jadi ngantuukk hhoooaaaaammm.." aku melihat jam ditaman "ah masih sore baru juga jam 8, tumben banget udah ngantuk, tapi males banget tidur, hufffhh.."

Aku melihat disekelilingku ternyata masih ramai, masih banyak aktivitas yang dilakukan orang-orang, dan aku melihat sekumpulan anak-anak kecil yang segolong denganku sedang tertawa-tawa bersuka cita. Ternyata mereka sedang bermain egrang dan anggar-anggaran yang terbuat dari pelepah pohon pisang, permainan tradisional yang memang masih digunakan oleh anak-anak jalanan seperti mereka. Kemudian aku melihat rumah-rumah mewah yang mengelilingi taman "hhhmm sungguh berbeda dengan anak-anak yang tinggal di dalam rumah-rumah gedong itu, pasti mereka mainnya playstation atau game-game di komputer di Ipad. Bahkan bisa aku tebak pasti mereka tidak tau apa itu egrang apa itu anggar-anggaran" gumamku.

Tiba-tiba saja dari kerumunan anak-anak itu ada yang memanggilku "oooiii mba Jul, ngapain bengong, mendingan sini main sama kita, cobain nih maen egrang, aahh pasti mba Jul gak bisa dan dijamin jatoh, hahahaha" 

anak itu tertawa terbahak-bahak diikuti dengan tawa dari teman temannya "sial gue diledekin anak kecil" lalu aku membalas ucapan mereka 

"wah kurang ajar lo pada, gue lebih hebat dari lo lo pada, mana sini gue coba" 

Akupun menghapiri mereka untuk membuktikan kalo aku jago maen egrang walau sebenarnya ini kala pertama kali aku mencobanya. Tapi aku gak rela harga diriku diinjek-injek sama bocah-bocah ingusan kayak mereka yang umurnya aja belom pada genap 10 tahun, gengsi dong klo aku nolak tantangan mereka. 

Salah satu dari merekapun memberikan eggrangnya untuk aku coba "aahh ini mah kecill, nenek-nenek bongkong juga bisa" ucapku sombong, 

lalu perlahan ku coba naikkan kaki kananku di atas tumpuan egrang, lalu kunaikkan lagi sebelah kakiku di tumpuan lainnya "ah gampang, lo liatt bisa kan gue" jawabku dengan bangga sambil tersenyum lebar, 

kemudian salah satu dari mereka yang namanya Binyo menyahut  "yaahh mba Jul, jalan dong, nenek-nenek bongkok juga bisa klo cuma diri doang, ahahahaaa" kemudian diikuti dengan tawa anak-anak lainnya, 

"hmmmm siapa takut, lo liat nih yaa" jawabku. Selangkah, dua langkah, aman. ketika di langkah ketiga aku mulai kehilangan keseimbangan, dan "guubbrraaaakkk...." disusul segra dengan suara tawa dari bocah-bocah itu 

"hahahahaa.... udah mba Jul klo gak bisa bilang aja wakakakak..." lanjut si Binyo mengompori anak-anak lainnya 

"aarrgghh diem lo semua, bukannya bantuin gue bangun malah ketawain, awas ya lo semua gak gue beliliin es potong lagi"

mendengar ucapanku tadi anak-anak itu langsung berubah 180 derajat, mereka berhenti mentertawaiku, dan si kompor Binyo-pun segera merubah ucapannya 

"wooyy lo pada kenapa diem aja, bantuin mba Jul bangun tuh, ayoo ayooo" serentak anak-anak itu membantuku untuk bangun. 

Es potong emang senjataku yang paling ampuh untuk menghadapi anak-anak ini kalau lagi bandel, mereka emang terkadang menyebalkan, tapi aku sayang banget sama mreka, mereka adalah keluargaku di sini, siapa lagi selain mereka yang aku punya. Walaupun aku cuma bisa kasih mereka es potong, itupun tidak sering hanya kalau lagi ada pemasukan banyak. Dan saking sayangnya aku pada mereka, aku pernah mendatangi beberapa mahasiswa dan meminta mereka untuk bersedia dengan sukarela mengajari membaca dan menulis anak-anak ini. Sebenarnya bisa saja aku mengajari mereka baca dan menulis, tapi kalau aku yang mengajar mereka pasti tidak akan serius ngejalaninnya, kalau orang lain pasti mereka takut. 

Akhirnya aku bisa berdiri lagi dengan tegap, walaupun tangan dan kakiku sakit karena terjatuh tadi dan sepertinya engsel pergelangan kakiku sedikit terkilir. Lalu aku memutuskan untuk bergegas ke tempat tidurku 

"udah puas kan lo pada ngecengin gue? badan gue udah sakit-sakit dan sekarang gue ngantuk mau tidur, awas aja kalo ada yang gangguin! gue jitakin satu-satu" kataku sambil menunjukkan kepalan tanganku kepada mereka, 

"siaappp mba Jul" jawab Binyo "silahkan tidur dengan nyeyak mba Jul" lanjutnya. 

Akupun berjalan ke arah tempat tidurku, membaringkan tubuhku yang lelah, melihat kelangit, banyak bintang. Setelah hujan gerimis tadi sore, malam ini terlihat cerah. "Semoga malam ini tidak hujan" ucapku dalam hati. Tak lama aku memandang langit yang dipenuhi dengan bintang akupun tertidur.

Bersambung...

Wednesday, 17 October 2012

Scandal of Jul Park - Part 2



Rangga hanya tersenyum melihatku, dia pun pasti tau alasanku kenapa aku tidak mau menyambut tangannya, yaaa karena tanganku kotor.

"Ooh Jul?" kata pemuda itu, akupun hanya mengangguk ketika dia menyebut namaku. "begini mba Jul" dia melanjutkan "saya di Taman ini, bukanny lagi cari perhatian orang-orang yang ada di Taman ini, teriakkan saya tadi pun tanpa saya sadari keluar begitu saja dari mulut saya saking kesalnya saya dengan apa yang sedang menimpa saya hari ini" Rangga memeperhatikanku sebentar kemudian melanjutkan "nah kalo mba Jul sendiri, sedang apa di Taman ini?"

Aku berfikir apa yang harus aku jawab, dia bertanya seperti itu karena memang benar-benar tidak tahu siapa aku atau hanya pura-pura tidak tahu dan ingin merendahkanku saja, tapi mungkin dia memang benar-benar tidak tau siapa aku, lalu aku putuskan untuk menjawab pertanyaannya dengan apa adanya "saya memang setiap hari di sini".

"oohh jadi udah agenda rutin yaa kamu kesini?" jawab Rangga.

"bukan agenda rutin lagi, saya memang tinggal disini, ini rumah saya"

Setelah mendengar ucapanku Rangga langsung melihat-lihat ke atas pohon dari pandangan matany "memang rumahmu disebelah mana?" tanya Rangga dengan masih tetap pendangan matanya melihat kesekeliling pohon yang ada di Taman.

"Ooh Tuhan, memangnya kamu pikir saya apa? dedemit? dedemit yang tinggal di atas pohon?" jawabku geram "saya tinggal di bawah pohon, bukan di atas pohon, tuh di sana" jawabku sambil menunjukkan bangku taman yang terbuat dari semen, panjangnya hanya sekitar satu meter setengah dan memang bangku itulah yang kujadikan sebagai tempat tidurku yang paling nyaman selama lima tahun ini.

Pernah sesekali aku mencoba tidur di kasur empuk waktu diminta untuk menemani Eyang Uti yang rumahnya persis di depan Taman ini, memang empuk dan nyaman sekali, tapi realita menyatakan kasurku di sini, di bangku semen Taman ini bukan di kasur empuk itu.

Rangga sadar ucapan Jul barusan itu serius, dan untuk meyakinkan kebenarannya Rangga kembali bertanya "kamuu beneran tinggal di sini?"

Aku hanya mengangguk meng-iyakan

"kamu gak punya tempat tinggal?"

aku kemudian kembali mengangguk.

Tentu saja Rangga tidak menyangka, sebagai anak jalanan aku cukup menjaga kebersihan tubuh dan pakaianku dibandingkan anak jalanan lainnya, minimal aku mandi sekali dalam sehari dan berganti pakaian sekali dua hari apabila tidak terlalu kotor, walaupun aku malas untuk sisiran makanya kupotong bondol saja rambutku tapi dua hari sekali aku keramasi biar wangi.

Eyang Uti selalu mengajarkanku untuk selalu menjaga kebersihan dan dia suka memberiku baju-baju bekas anaknya dulu yang masih bagus-bagus dan beberapa kali aku pernah dibelikannya baju seharga 400 ribu, baju terbaik dan termahal yang aku punya, aku baru memakainya 2 kali, yang pertama ketika aku memakainya di hari ulang tahunku dan yang kedua kukenakan saat menghadiri pemakaman Eyang Uti tiga tahun lalu.

Setelah Eyang Uti meninggal, baju itu tak pernah aku kenakan lagi dan kusimpan dengan rapih di dalam tas selempang yang selalu kubawa kemanapun dan hampir tak pernah kulepaskan dari tubuhku, karena disitulah hartaku yang paling berharga tersimpan. Setahun setelah kematian Eyang Uti, keluarganya pindah keluar negeri dan rumah itu di jual, penghuni barunya adalah pengantin baru yang sampai tahun kedua pernikahannya belum juga diberikan keturunan.

"Yaa beginilah hidupku, anak jalanan, gak punya rumah, orang tua entah dimana masih hidup atau sudah matipun aku tidak tau" kataku miris.

"hmmm, sudah lima tahun di sini, gak nyari tempat lain untuk tinggal, klo anak jalanankan biasanya tinggal dimana aja dan pasti selalu berpindah-pindah, emangnya gak di usir kantip klo tidur di sini?" Tanya Rangga

Aku tertawa mendengar ucapannya, dan menjelaskan sekali lagi kepada Rangga "kan tadi sudah saya bilang, ini rumah saya, gak ada yang berani mengusur saya dari sini dan aku sudah betah gak ada niat sedikitpun untuk pindah rumah :D" ucapku bangga. 

Aku senang bermain dengan anak-anak di sini, saling bersapa ramah dengan ibu-ibu muda, dan menjadi pendengar yang baik dari ocehan-ocehan para nenek-nenek dan kakek-kakek yang mengisi taman disetiap sore, yaa kalau bukan aku yang mau mendengarkan keluh kesah para manula itu lantas siapa lagi? Anak mereka saja sudah sibuk bekerja, tak ada waktu untuk mendengarkan ocehan-ocehan yang tidak penting dari mereka, dan cucu mereka pun layaknya anak muda di jamannya, bermain bersama temannya, pacaran, melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Kalaupun ada cucu mereka yang masih balita apa akan mengerti dengan apa yang di keluhkan oleh sang manula itu. Dan tak jarang aku dan mereka tertawa bersama, mereka sangat baik kepadaku, bisa menerimaku, bahkan kantip yang dibilang Rangga akan mengusirku itu sudah sangat akrab denganku dan mengizinkanku untuk menjadi penghuni Taman ini, yaa mereka memang harus mengizinkanku tinggal di sini, ini fasilitas umum yang dibuat pemerintah untuk rakyatnya, kalau mereka mengusirku dari sini memangnya pemerintah mau bertanggung jawab dengan membangunkanku sebuah tempat tinggal? peduli apa para pemerintah itu, cih.. Lagipula di taman ini aku bukan hanya sekedar makan dan tidur saja tapi aku juga turut serta menjaga taman ini, merawat tanaman-tanaman disini, menjaga kebersihan taman ini. Bahkan orang-orang disini menamai Taman ini dengan sebutan "Jul Park" Taman Jul, hahahaaa luar biasa bukan? 

"Oohh baiklah kalo memang itu sudah keputusanmu :)" Rangga tersenyum dan terdiam.

Sepertinya Rangga kehabisan kata-kata untuk berbicara padaku, atau mungkin dia merasa jijik denganku setelah ku beri tahu siapa aku di Taman in. Untuk menepis keheningan aku melontarkan sebuah pertanyaan yang memang sedari tadi aku ingin tanyakan ke pemuda itu yaaa ke Rangga, akupun mulai memberanikan diri bertanay "saya boleh tanya mas Rangga?" 

Rangga menoleh ke arahku dan lagi-lagi tersenyum dan berkata "tentuu saja boleehh, apa? apa yang ingin kamu tanyakan sama saya?" jawab Rangga dengan ramah.

Bersambung...


Friday, 31 August 2012

Scandal of Jul Park - Part 1


Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, dengan langkah gontai, di bawah hujan gerimis yang membasahi di beberapa sudut kota sore ini, siapa gerangan, sosoknya yang gagah, nampak tampan dengan berbalutkan kemeja merah hati, mengenakan celana bahan hitam dan sepatu pantofel yang masih berkilauan dan bisa ditebak kalau sepatu itu pasti baru di beli sehari yang lalu atau paling tidak lamanya seminggu yang lalu, pemuda itu cukup tinggi, mungkin aku hanya mencapai bahunya. Dia berjalan dengan gontai, sungguh sangat tidak seimbang dengan perawakannya. Tak biasanya ada karyawan yang singgah di taman saat jam pulang kantor, padahal setiap pegawai, karyawan atau para pekerja lainnya ingin selalu segera sampai dirumah, tapi tidak dengan pemuda itu. 

Aku yang setiap harinya ada di taman baru kali ini melihat pemandangan itu, biasanya jika sore hari seperti ini, taman hanya diisi oleh anak-anak yang bermain bola, ibu-ibu yang menyuapi anaknya atau para orang tua lanjut usia yang sedang bermain dengan cucu mereka. Tapi sore ini lain, ada sesosok pemuda berpakain rapih yang bisa ditebak kalau dia sudah bekerja, "ah mungkin dia sedang ada janji dengan seseorang, "mmm kencan pertama mungkin" pikirku, "tapiii... aahhh tidak..tidak.. sepertinya pemuda itu bukan sedang menunggu seseorang tetapi seperti sedang menunggu jawaban, yaa jawaban, teppaatt, jawaban dari keresahan hidupnya, semuanya terbaca olehku dari raut ekspresinya dari cara dia memainkan keningnya, matanya, atau kepalanya yang sesekali melihat ke atas kemudian menghela nafas sambil melemparkan pandangannya ke bawah.

Aku penasaran, lalu perlahan ku ayunkan kakiku menuju tempat pemuda itu berjalan mondar mandir bak orang kebingungan, menimbang-nimbang dan sesekali dia menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan apa yang ada dalam pikirannya. Tak terasa ayunan kaki ini semkin lama semakin dekat, dan entah kenapa jantung ini berdegup, semakin mendekati, degupan jantung ini pun semakin kencang.

Tak kurang dari tiga langkah lagi mencapai pemuda itu tiba-tiba "Aaaaaaaarrrrrrggghhhhttttt....." pemuda itu berteriak sangat kencang sambil menghentakkan tangannya ke udara yang semula digunakan untuk menyandarkan kepalanya. Tentu saja kejadian itu sangat mengagetkanku, aku spontan memberhentikan langkahku dan menstabilkan degupan jantungku yang dipicu oleh teriakkannya itu, sambil membisu dan sesekali menarik nafas dan menghelanya pelan. Benar perkiraanku, dia bukan menunggu seseorang, tapi menunggu jawaban.

Setelah beberapa detik terjadi keheningan karena teriakannya, aktivitas para pengunjung taman kembali normal yang sempat berhenti karena mengalihkan perhatiannya pada pemuda itu. Akupun memutuskan untuk kembali ketempat semula dan mengurunkan niatku untuk menyapa pemuda itu, aku membalikkan badanku dan berjalan perlahan ketempat tadi aku bersantai. Tapi, aku kembali berfikir "jika aku tidak menghampirinya dan menanyakan apa yang sedang dia permasalahkan aku akan jadi penasaraaann dan terus penasaran, mungkin aku tidak bisa tidur dua malam karena memikirkanya, "ah sial...!". 

Akhirnya aku membalikan kembali tubuhku ke arah pemuda itu, dan dengan langkah yakin aku menghamprininya, hanya berjarak kurang lebih 80cm dari pemuda itu aku kemudian langsung menge-judge nya "lagi stress ya mas? atau lagi cari perhatian orang-orang di sini dengan berteriak kencang kayak tadi?" mendengar perkataanku, pemuda itu melihat kearahku sambil mengerutkan dahi diantara alis kanan dan kirinya, yaa ekspresi menanyakan maksud perkataanku barusan. Akupun terdiam dengan ekspresi tercengang takjub, pemuda itu sangat tampan, mampu memicu jantungku untuk berdetak lebih kencang, bahkan sangat kencang. 

"Bicara sama saya?" pemuda itu bertanya kepadaku sambil menunjuk dirinya sendiri.

"coba mas liat kiri kanan mas! emangnya saya gila?" jawabku sedikit intonasi tinggi. Pemuda itupun langsung melihat kiri dan kanannya, dan tidak satupun wujud yang dia temui selain aku di situ, lalu tiba-tiba pemuda itu tertawa lebar tanpa suara, aku pikir dia akan menjawab ketus ucapanku tadi, tapi ternyata dia tersenyum. 

Yaa Tuhan, benar-benar tampan pemuda ini dan senyumnya mampu menggetarkan sanubari jantungku, sambil menyembunyikan perasaanku yang tak karuan aku berkata kepada pemuda itu "kenapa ketawa? emangnya ada yang lucu?, saya serius..". 

Pemuda itu tertawa lagi, kali ini mengeluarkan suaranya dan kemudian berkata "nah justru itu, keseriusanmu yang membuat saya tertawa.. itu sungguh lucu" pemuda itu tertawa lebih kencang, mentertawakanku, apanya yang lucu, dia pikir aku dagelan? aaarrgghhsshhiitt...!.

Melihat raut mukaku yang geitr, pemuda itu melanjutkan "saya Rangga" sambil menjulurkan tangan kananya kepadaku, aku tersentak "maaf deh kalo ketawa saya tadi membuat mba ini kesal, saya hanya cari hiburan dari kesuntukkan saya hari ini" pemuda itu melanjutkan. 

TEPATT..!!!! dia anggap aku ini memang dagelan dibuatnya, tapi apa dayaku, kemarahan ini seketika hilang dengan sebuah senyuman dan uluran tangan dari pemuda itu, dan yang membuatku terheran, kenapa dia mau bersalaman denganku, menjabat tanganku, menyentuh tanganku yang kotor dengan kuman, aku tak sebanding dengannya, dia tak pantas menyentuhku, dia tak boleh terkena kuman yang menempel di sela-sela jemariku bahkan di setiap titik garis tanganku.

"guee Jul.. Julaiha, tapi panggil aja Jul" jawabku sambil membuang muka melihat ke sekeliling taman karena gugup dan tanpa membalas sambutan tangannya.

Bersambung...


Friday, 17 August 2012

Prolog : Langit Biru Di Pinggir Danau Kenanga


Tiba-tiba saja Langit datang ke kedai kopi yang biasa dikunjungi Anin, memang tidak susah kalau mencari Anin di hari Selasa sore, dia pasti selalu ada di sana, jadwal rutin katanya. Tepat sekali tebakan Langit, Anin memang ada di sana, seperti biasa menikmati Choco Coffee menu favoritnya dengan ditemani dua benda yang selalu menjadi kaki tangannya, buku ensiklopedia dan juga laptop Fujitsu 13 ichnya itu hadiah pemberian dari pamannya. Tampak ragu-ragu langkah Langit untuk menghampiri Anin, ia tidak yakin apa yang akan dikatakannya kepada Anin, tapi Langit tidak bisa lagi menunda terlalu lama "katakan sekarang atau tidak sama sekali" bisik yakin dari hatinya. 

Anin yang dengan serius memahami rantaian kata demi kata dalam buku yang selalau menemani dia menikmati tetesan rasa kopi kesukaannya tak menyadari kedatangan Langit yang kini telah duduk di kursi kosong yang hanya terpisahkan oleh meja berbentuk lingkaran dengan tinggi yang tak mencapai satu meter. Anin dikagetkan dengan suara khas bassnya yang dimiliki Langit ketika memanggil namanya, dengan jantungnya yang berdegup tak stabil dan perasaan yang tak karuan Langit membenarkan duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Anin yang membuktikan bahwa Langit ingin berbicara serius. 

Tanpa basa-basi Langit menceritakan bahwa dia terpilih untuk dipindah tugaskan dua tahun mendatang ke Potsdam yang merupakan ibu kota dari sebuah negara bagian Jerman yakni Brandenburg, kota ini mengelilingi ibu kota Jerman yakni Berlin. Pemindah tugasan ini merupakan hal yang sangat di idam-idamkan oleh Langit, Anin pun senang bukan main ketika sahabatnya sedikit lagi akan mewujudkan impiannya itu. Tapi ada hal lain yang di ungkapkan Langit yang kemudian membuat Anin menjaga jarak dari Langit dan membuatnya ragu akan perasaannya ke Bima. 

Apakah yang dikatakan Langit yang seketika membuat perasaan Anin terombang ambing dan membuatnya lebih sering menyendiri? kita tunggu jawabannya kalau novel pertama saya ini telah diselesaikan, walaupun belum tau kapan tulisan ini akan selesai hehehe... akhir tahun ini, satu tahun lagi, dua tahun lagi atau bahkan tiga tahun lagi, tapi yang jelas Insya Allah saya mau menyelesaikan tulisan ini, Bismillahirohmannirrahim... :)

Wednesday, 15 August 2012

Keluarga Waktu : Belum Dapat Judul yang Tepat

Seperti biasa, setiap hari para penghuni Desa Hari itu selalu hadir untuk mewarnai penghuni Kota Bumi.. Dari awal mula terbentuk sampai nanti kemudian masa Desa Hari itu ditiadakan, penghuni Desa Hari hanya memiliki satu keluarga bernama Keluarga Waktu yang terdiri dari 4 anggota keluarga ada Ibu Pagi, Pemuda Petang, Nona Senja dan Tuan Malam.. Ibu Pagi tidak pernah bertemu dengan Nona Senja, dan Pemuda Petang tidak pernah bertemu dengan Tuan Malam begitu juga sebaliknya, padahal mereka satu keluarga dan berada di tempat yang sama yaitu di Desa Hari. Mungkin memang alamnya sudah dibuat seperti itu. Mereka hadir diwaktunya masing-masing sesuai dengan putaraan Kota Bumi dan titik poros Matahari. Pada suatu ketika di pergantian waktu, Ibu Pagi melihat Pemuda Petang sedang murung dan bermalas-malasan untuk melaksanakan pekerjaannya dan menggantikan tugas Ibu Pagi yakni mewarnai Kota Bumi.

"Hai Pemuda kenapa wajahmu tidak enak dilihat seperti itu, muram, kusut, tidak semangat, biasanya kau sangat senang bila Penghuni Kota Bumi ingin cepat-cepat menyambutmu datang dan kenapa kau sebagai pemuda tidak lebih semangat dibandingkan aku?" Tanya ibu Pagi.

Pemuda Petang rasanya malas sekali menjawab pertanyaan dari Ibu Pagi yang seperti Ibu-Ibu penghuni Kota Bumi, ramai, banyak tanya dan selalu mau tahu urusan orang lain walaupun Ibu Pagi ini sangat perhatian. Dengan suara parau Pemuda Petang menjawab pertanyaan Ibu Pagi "Musim panas telah datang Bu Pagi, pasti penghuni Kota Bumi tidak suka kehadiranku, karna aku ini membawa panas menyengat membuat para penghuni Kota Bumi malas beraktifitas, malas keluar rumah dan bahkan mencemoohku karna aku membawa panas" seruu Pemuda Petang.

"Ahahahaha" Ibu Pagi tertawa mendengar ucapan sang Pemuda Petang "kenapa kau menghawatirkan hal itu Petang? bukankah para penghuni Kota Bumi selalu menunggu kehadiranmu untuk bisa meninggalkan sejenak kesibukan mereka, kau selalu ditunggu untuk melepas lelah dipertengahan aktifitas mereka, kau di tunggu untuk merebahkan sebentar punggung mereka ke sandaran kursi, kau selalu ditunggu mereka untuk mengisi perut mereka dengan makanan-makanan lezat" ucap Ibu Pagi yang merasa terhibur oleh alasan dari Pemuda Petang yang membuatnya murung tapi sekaligus turut prihatin.

Pemuda Petang hanya tersenyum getir kepada Ibu Pagi, yaahh walaupun dia memikirkan kembali perkataan Ibu Pagi yang ada benarnya juga, penghuni Kota Bumi selalau menunggu kedatangannya. Walau panasku membakar permukaan kulit penghuni Kota Bumi tapi para penghuni itu tak jarang menyempatkan waktunya untuk makan siang bersama keluarga, kerabat, teman atau para partner mereka. Memang aku merasa senang sekali melihat ekspresi bahagia penghuni Kota Bumi saat sedang berkmpul makan siang. Dan tentu saja, di penghujung pekerjaannya, Pemuda Petang akan dapat bertemu dengan Nona Senja, melihat keindahan yang dipancarkan oleh Nona Senja membuat semua lelah yang ia rasakan setelah bertugas hilang begitu saja, lamunan itu membuat Paman Petang tersenyum-senyum sendiri.

"Hmmm..." Ibu Pagi merasa kebingungan melihat tingkah Pemuda Petang, cepat sekali dia merubah mimik muka yang dimilikinya. "Seharusnya aku yang merasakan apa yang kamu rasakan hei Pemuda" Ibu Pagi melanjutkan " Setiap pergantian Desa Hari dan kepergian Tuan Malam, bukankah aku tidak diharapkan hadir untuk mengisi kehidupan para Penghuni Kota Bumi, bukankah menurut mereka kedatangnku di awal hari merupakan awal masalah baru bagi mereka? hah?" Ibu Pagi menekankan pertanyaan itu pada Pemuda Petang, dan kemudian tersenyum lebar diikuti dengan lembutnya kata demi kata yang diucapkannya "tapii Pemuda, aku tidak pernah mengeluh, aku tidak pernah meminta penciptaku untuk mengakhiriku, aku selalu memberikan keceriaanku kepada para Penghuni Kota Bumi itu ketika mereka menyambut pagi, sehingga mereka bisa juga menyambutku dengan ceria, aku selalu membuat mereka menyukaiku, aku selalu memberikan yang terbaik bagi mereka, udara yang sejuk di pagi hari, matahari yang memberikan kehangatan di dinginnya udara pagi yang terkadang membuat seluruh tulang mereka terasa ngilu dan aku selalu memberikan warna keindahanku kepada mereka tanpa sedikitpun aku membenci mereka, membenci pekerjaanku ataupun membenci takdirku, yahh walaupun terkadang apa yang kita lakukan belum tentu membuat mereka suka, huuffhh" Ibu Pagi menghela nafas panjang seperti baru saja lari satu putaran di Kota Bumi.

Kini gantian Pemuda Petang yang merasa prihatin mendengar isi perasaan Ibu Pagi, ternyata perspektif para Penghuni Kota Bumi terhadap kedatangan Ibu Pagi lebih menyakitkan di bandingkan kehadirannya. Benar saja mereka menganggap kedatangan Ibu Pagi sebagai awal masalah baru bagi mereka. Pemuda Petang hanya dapat memberikan seulas senyuman ketulusan yang mungkin dapat menenangkan hati Ibu Pagi sekarang, dia tak mau memperkeruh perasaan Ibu Pagi dengan perkataan yang akan ia keluarkan untuk menenangkan Ibu Pagi, menurutnya sebuah senyuman sudah cukup membuat Ibu Pagi juga akan tersenyum untuk membalas senyumannya.

Tak lama membalas senyum ketulusan Pemuda Petang, akhirnya Ibu Pagi pamit undur diri untuk segera beristirahat "Baiklaahhh Pemuda, sudah datang waktumu dan aku harus segera kembali pulang" sambil membayangkan halusnya dan tebalnya cloud cumulus yang semakin aktif menebal disetiap kepergian Ibu Pagi dan awal kedatangan Paman Petang untuk melengkapi kesempurnaan Desa Hari. Seraya awan ini memang diciptakan untuk menyambut rasa lelah Ibu Pagi setelah habis bekerja, bisa berbaring di atasnya merupakan hal yang paling menyenangkan, namun semua itu hanyalah ilusi belaka Ibu Pagi. Dalam kenyataannya Keluarga Waktu tidak pernah beristirahat, mereka selalu bekerja sampai dunia ini kiamat, sampai tak ada lagi alam semesta, Kota Bumi dan para penghuninya karena mereka selalu berpindah-pindah tempat untuk mewarnai daerah yang satu ke daerah lainnya yang mengisi Kota Bumi.

Pemuda Petang pun memulai pekerjaannya setelah kepergiaan Ibu Pagi, "hmmm semoga Ibu Pagi sedang menerangi belahan Kota Bumi lainnya yang memiliki pemandangan yang indah agar kesedihannya hilang" ucapnya dalam hati. Kejadian yang belum lama terjadi bersama Ibu Pagi membuat Pemuda Petang bekerja dengan penuh semangat dengan dihasi senyum ketulusan dan tak hentinya mencoba untk selalu melakukan yang terbaik untuk mewarnai Kota Bumi. Tapi satu hal yang tak dapat ia hindari, perasaan yang selalu ingin dengan cepat menyelesaikan tugasnya, bukan karena lelah ataupun rasa kesalnya terhadap penghuni Kota Bumi yang selalu mencibirnya tetapi karena setiap di akhir pekerjaannya, dia dapat melihat paras lembut nan anggun yang selalu memancarkan aura kedamaian, yaa Senja, Nona Senja.

Astiandini

Saturday, 16 June 2012

Cerita Fiksi Pertama : Kota Mati ataukah Surgawi?


Aku berjalan, kemudian terdiam, memandang sekelilingku yang bagaikan kota mati, yaa kota mati..!! "aakhh kenapa aku merasa begitu, padahal bagi orang yang berbahagia hari ini, kota ini bak surgawi" ucapku dalam hati. kemudian dari belakang tiba-tiba ada yang menepuk-nepuk punggungku, tentu saja aku tersentak kaget melihat siapa makhluk yang menyentuhku itu, wajahnya yang bersih, rambutnya yang lurus terurai dan senyumnya yang ramah meresonansikan kenangan masa lalu, tepatnya 2 tahun lalu. Terakhir aku melihat senyuman ramah itu ketika untuk terakhir kalinya kekasihku memintaku untuk melupakannya, yaa tepat hari ini, 2 tahun lalu, memintaku untuk melupakannya atau bahkan membencinya dan masih terbayang dalam mataku senyumnya sambil berkata "maaf" sebelum memintaku melupakannya. Dia berkata padaku bahwa dia telah memilih lelaki lain dan memutuskan untuk menikah dengannya minggu depan, katanya lelaki itu sudah di jodohkan dengannya oleh orang tua mereka, ketika mereka masih kecil. Tapi mana mungkin benar mereka dijodohkan, orang tuanya saja dapat menerimaku dengan baik, bahkan kedua orang tuanya sangat mempercai aku untuk menjaga anak gadis semata wayangnya, mana mungkin dia dijodohkan, ahh pasti dia berbohong padaku, pirkirku.

Aku menolak alasan dia yang tidak masuk akal, dan terus menuduh dia berbohong dan tak henti-hentinya menuduh dia menduakanku. Benar saja, akhirnya di mengakui kalau beberapa bulan ini dia menjalin hubungan dengan lelaki lain, dan yang lebih parahnya, kekasihku berkata bahwa ia telah menanam benih dengan lelaki selingkuhannya itu, dan harus segera menikah. Aku shok bukan main, kedua kakiku terasa tak menapak bumi, tak bisa kubayangkan lemasnya tubuhku mendengar ucapannya, raga bagaikan tak bernyawa, hatiku hancur terluka. Benar-benar tak bisa kubayangkan, kami menjalankan hubungan ini semenjak dibangku SMA, dan kini umur kami sudah 26 tahun dan aku sudah memantapkan diri untuk menjadikan dia pendamping hidupku, andai dia tahu saat kejadian itu terjadi, saat dia memintaku untuk bertemunya, aku telah menyiapkan sebuah logam mulia berbentuk lingkaran yang ingin aku lingkarkan di jari manisnya, yaa aku berniat melamarnya saat itu, memintanya menjadi istriku, yaa tepat hari itu. Tapii apa yang aku dapati, di menghianati ku, penghianatan yang tak pernah aku duga sebesar itu, yaa Tuhan.

Dan kini, tepat dua Tahun lalu aku melihatnya kembali, senyum itu, wajah itu, oh Tuhan, kenapa? kenapa Kau pertemukan aku dengannya lagi setelah dua tahun lalu, setelah aku lupa kalau aku terluka, kenapa Tuhan? Tiba-tiba suaranya membuyarkan lamunanku akan 2 tahun lalu "maaf mas, apa mas tau alamat ini" tanya wanita itu dengan terheran melihat ekspresiku yang kaget melihat kehadirannya, aku pun tambah terkaget mendengar petanyaan yang terlontar dari mulutnya itu "dia tak ingat aku? dua tahun apakah waktu yang cukup untuk melupakanku, apakah dia lupa pernah menyakitiku, melukai hatiku", kemudian wanita itu melanjutkan "saya Nena, saya baru pindah ke Jakarta 4 hari yang lalu, dan saya sedang mencari rumah ayah tiri saya, apa mas tau alamat ini dimana?", "Nena?" sahutku dalam hati, nama kekasihku bukan Nena, lantas siapa dia? lalu kuambil kertas berisikan alamat rumah itu dari tangannya, dan aku tambah tercengang melihat alamat itu, rumahnya disebelah rumahku, tepat disebelah rumahku tanpa ada rumah lain yang menghalangi.

Lalu kembali ku melihat ke arahnya, aku melihat dengan seksama garis wajahnya, kilauan rambutnya yang hitam terkena tetesan sinar matahari di sore itu, dan senyumnya yang menususk-nusuk raga ini, hati ini. Kemudian akupun tersada, Ya Tuhan, benar saja kalo namanya berbeda, walau garis wajah, rambut berkilaunya dan senyumnya yang jelas terlihat sama dengan kekasihku dan benar saja kalau dia tak mengingat aku, sebab, dia memang bukan kekasihku 2 tahun lalu, ini orang yang berbeda, dan tak mungkin dia kekasihku karna kekasihku bukan pergi menghianatiku dengan laki-laki lain, setelah seminggu dia bilang telah menghianati aku dan akan menikah dengan laki-laki yang menghamilinya, dia memang pergi meninggalkanku, tapi bukan untuk menikah dengan lelaki lain melainkan dia pergi ke tempat Penciptanya, yaa kekasihku telah pergi menemui sang penciptanya, dan aku baru tahu setahun kemudian setelah di pergi. Kanker otak, kanker otak yang membuatnya menghianatiku, yang membuatnya melukaiku, menghancurkan hidupku. Dia berbohong kepadaku agar aku membencinya sehingga dapat dengan mudah aku melupakannya. Dan hari ini, tepat 2 tahun lalu Kau mengirimkan wanita yang benar-benar mirip dengan kekasihku, Ohh Tuhan apa rencanamu, apakah dia reinkarnasi dari kekasihku, dan mengapa dia akan tinggal di dekatku, di sekelilingku. Apakah selanjutnya kota ini akan tetap menjadi kota mati atau akan bak surgawi bagiku.