Time is Flow

Showing posts with label Tentang Hidup... Show all posts
Showing posts with label Tentang Hidup... Show all posts

Sunday, 31 May 2015

Wedding Bell Depapepe

Hari ini ceritanya lagi merombak blog, dari mulai layout, tema sampai backsound. Lagi cari lagu yang cocok akhirnya milih Depapepe yang It was a good day. Sambil dengerin lagu Depapepe yang lain, terdengarlah lagu Wedding Bell Depapepe. Entah kenapa saja jadi langsung mules apalagi kalo inget ada yang akan segera menikah. Seakan lagu ini cocok untuk saya dendangkan beberapa hari kedepan. Baiklah, mari bersama kita dengarkan si Wedding Bell ini.

Hallo apa kabar?

Hallo bloggers apa kabar? hallo my blog apa kabar?

liat postingan terakhir itu ternyata bulan Agustus tahun 2013, lama juga yaa saya tidak menulis di blog ini. padahal pada dua postingan terakhir saya janji ingin lebih sering menulis, tapi nyatanya wooooww hampir 2 tahun ga menulis. Kenapa alasannya? karena saya malas. alasan kedua karna saya asik di Tumblr dan itupun hanya reblog...reblog..reblog..alasan ketiga sibuk update di sosmed sejuta umat, yup path. semenjak ada path jadi asik ngepath dan jadi asik pamer-pamer kegiatan. Padahal sejatinya kegiatan yang kita lakukan bukan hanya untuk sekedar pamer (pamer di sini, kalo kegiatan positif siapa tau bisa mempengaruhi orang lain) tapi juga dikenang dalam sebuah catatan kecil seperti di blog. Tujuannya siapa tahu orang lain bisa belajar dari pengalaman yang kita tulis.

Singkat tulisan.. banyak hal yang saya alami dari tahun 2013 samapi dengan saat saya menulis postingan ini. Pertama, saya lulus kuliah dan jadi sarjana, lalu saya sibuk bermimpi untuk bisa kuliah di Oxford, yup salaha satu Universitas terbaik di dunia, mimpi cuma mimpi kan. Pengen kuliah di Oxford "pernah" saya coba perjuangin, yaitu bikin akun di Oxford Univ yang page isiannya sampai 23 page dan saya stuck di page ke 2, karna rumit saya tinggalkan itu. Payah yaa. nyerah, cemen.!! oke skip hal berikutnya. Dari dua bulan terakhir di tahun 2013 saya mencoba untuk meluangkan waktu dan uang untuk dapat traveling keliling Indonesia. Akhirnya trip pertama itu ke Pulau Tidung bersama teman-teman kantor. Dari sinilah saya memulai perjalanan. Di akhir tahun 2013 ini juga sayaa mencoba mendekati orang yang saya suka karena pengen move dari orang sebelumnya, sempet komunikasi cukup lama walau sekali-sekali, tapi akhirnya sebentar lagi orang itu mau menikah dengan pilihannya.

Di awal tahun 2014 saya masih saja suka mendatagi kegiatan pamera beasiswa yang diadakan oleh beberapa lembaga pendidikan baik nasional maupun internasional. Selain pameran pendidikan, saya juga asik mendatangi pameran seni lukisan, I love painting. Pada bulan Januari ini saya dikejutkan dengan berita hebat bahwa Fakultas tercinta saya yakni FISIP terjadi kebakaran di Gedung C. Kalian tahu gedung ini adalah tempat di mana saya diberikan acc untuk mengerjakan skripsi saya, sedih jadinya hiks hiks. Pada bulan Februari, saya senang sekali akhirnya satu-satunya kakak kandung saya tercintah sudah tidak lagi melajang, yup dia dipertemukan dengan jodoh terbaiknya dan kemudian menikah. tapi sedihnya dia dibawa ke Tangerang tempat suaminya tinggal. Saya hanya hanya berdua dengan beliau sangat merasa kehilangan dan merasa kesepian. Akhirnya Allah memberikan pengganti dengan mengirim adik sepupu saya yang tinggal di Semarang untuk tinggal di rumah saya, karena dia diterima kerja di Jakarta.

Bulan Maret 2014, saya diajak seorang teman untuk ikut traveling, acara traveling ini diadakan oleh komunitas BlactrailersID. Destinasi perjalanan ini ke Bandung bagian Barat, kita ke Patahan Lembang, Ghua Pahwon, dan Taman Batu, dan pada malam harinya diadakan acara Urban Legend, wih kita mengelilingi bangunan-bangunan hororr di Bandung. Ternyata ketahuan di sini siapa yang penakut dan siapa yang pemberani dan siapa yang punya indera ke enam. Saya senang sekali bisa berkenalan dengan teman-teman di acara ini, kenapa? karena teman-teman di sini adalah orang-orang hebat, ada penulis sekenario film layar lebar, ada finalis penyayi AFI, ada arsitektur, ada runner, ada pengusaha, ada dan masih banyak lagi orang-orang berprestasi di sini. Dan pada akhirnya sayapun merasa minder karena saya merasa saya belum melakukan apa-apa di umur yang hampir sepantar dengan mereka.

Bulan April 2014, adalah bulan yang paling berharga, kenapa, karena usia saya menjadi 24 tahun hahaha. aduh aduh.. udah mulai galau cari pasangan, ditambah lagi sahabat saya dari SD si Ria sudah dipertemukan dengan jodohnya dan mereka menikah pada Bulan Mei 2014. Seneng banget, selamat menempuh hidup baru yaa riaaaa. Setelah saya menghadiri akad nikah sahabat saya di pagi hari, siangnya saya langsung meluncur ke bandara untuk melakukan perjalanan ke Singapore dan Malaysia. Lumayan kegalauan diisi dengan perjalanan. Ini adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri. Seminggu setelah perjalanan luar negeri, saya mengikuti kegiatan sosial dengan adik-adik sepupu saya yakni ikut dalam acara pengetikan ulang buku untuk tuna netra.

Pada pertengahan bulan Juni 2014, saya kembali melalukan perjalanan jelajah Indonesia, dari kawsan yang dekat dulu, yakni ke Kampung Baduy Dalam. Ini perjalanan yang benar-benar menguras tenaga, perjalanan pertama saya menempuh berkilo-kilo meter dengan berjalan kaki dan medan jalan yang tidak selalu mulus. Bahkan kami menempuh jalan yang kemiringannya mencapai 90 derajat, bayangkan. Di perjalanan ini saya juga bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki wawasan luas, dan tentu saja bertemu dengan berbagai karakter dan profesi. Dalam perjalanan kita memang sangat dituntut untuk bisa mengerti karakter orang lain, terutama orang yang baru kita kenal. Satu hari setelah dari Baduy, saya langsung berangkat lagi menuju Bandung, kali ini sih jalan-jalan koper a.k.a acara kantor hiiii :D

Bulan Juli dan awal Agustsus 2014 saya vacum dulu jalan-jalan karena bulan Ramadhan. Ramadhan berakhir saya kembali lagi mengadakan trip, kali ini sih cuma muter-muter keliling Jakarta bersama the gengs Remet. Akhir bulan Agustus saya dan Geng Remet melakukan perjalanan yang agak jauh dan agak ekstrim, kita tracking ke Kawah Ratu yang lokasinya berada di Taman Nasional Gunug Salak. Kata orang-orang Gunung Salak adalah gunung yang paling angker, tapi anehnya diantara perjalanan yang sudah saya lakukan, saya paling suka sekali medan di Gunung Salak, banyak sungai dan udara yang sejuk. dan trip ke Gunung Salak saya jadikan The Best Trip di tahun ini. Ini pertama kalinya saya naik setengah gunung beneran, dengan perjalanan tek-tok 9 jam.

Bulan September 2014 awal saya kembali melakukan perjalanan koper, yakni ke Semarang, ikut adik sepupu saya pulang kampung. Saya tekankan ke dia bahwa saya mau menghabiskan seluruh hari di Semarang dengan jalan-jalan, akhirnya kitapun eksplore Semarang dan sekitarnya dari ke Goa Kreo, Gedong Songo samapi wisata kuliner makan mie level yang pedesnyaa berlevel hehee..
September akhir, saya kembali jalan-jalan ke Surabaya-Gresik, kali ini karena salah seorang teman kantor saya menikah di Surabaya, jadilah kami beramai-ramai satu divisi pergi ke Surabaya dengan menggunakan kereta odong-odong alias keret Ekonomi dengan harga Rp65.000. Tujuan utama memang menghadiri pernihakan, namun hanya satu-dua jam saja, sisa hari di sana tentu saja kami habiskan untuk jalan-jalan hehee.

Pertengahan Bulan Oktober 2014, saya menggantikan Mas Iwan untuk mengikuti sosialisasi beasiswa di Bandung, saya sih senang-senang saja  hehee. Akhir bulan Oktober, saya pergi ke Gunung Mas dengan tema Tea Walk. Acara ini sebenernya acara di lingkungan RT Oom saya yang masih satu RW dengan saya, karena lingkungan kami akur dan orang luar boleh ikut asalakan bayar yaa saya memutuskan untuk ikut bersama Ibu dan sepupu-sepupu saya, malahan jadi seperti tamasya keluarga besar sendiri.

Pertengahan bulan November lagi-lagi saya pergi ke Bandung, kali ini acara khusus divisi SDM (tahun ini ke Bandung 3 kali dalam setahun). Akhir November, kali ini saya pergi ke Pantai, setelah beberapa waktu perjalanan ke Gunung terus. Perjalanan ini diadakan oleh ibu-ibu pengajian di lingkungan rumah saya, termasuk ibu saya terlibat di dalamnya. Karena anak-anak-nya dan orang luar pengajian boleh ikut, saya langsung bilang mau ikut. Saya gak peduli dengan siapa melakukan perjalanan, yang utama saya pergi jalan-jalan :).

Desember. Selamat datang ke dunia Haidar Hamizan Hananwibyadithya.. bulan ini lahirlah seorang bayi laki-laki yang lucu dan mungil, Haidar panggilannya, keponakan pertama saya, cucu pertama dari keluarga kami lahir pada tanggal 19 Desember 2015. Senangnyaaaaa... akhirnya saya punya ponakan juga. Tambah galau lagi deh, lhooo??Akhirnya cuti tahunan yang saya ambil langsung 2 minggu di habiskan nginep di rumah kakak saya di Tangerang, bahkan sampai malam tahun baruan di Tangerang.

Hallo 2015

Januari, di kantor, terjadi perubahan kabinet, alias pergantian pimpinan karena masa jabatannya sudah habis, dan digantikan dengan pimpinan baru. Kata orang pergantian pimpinan itu serasa kita kerja ditempat baru, tepat sekali, perubahan karakter pimpinan, perubahan gaya kepemimpinan, perubahan pola pikir pimpinan menjadi medan perjalanan, bahkan sampai hari ini saja saya belum mampu melewati medan perubahan itu. Di hari terakhir masa jabatan Ibu Daly, kami staf setianya mengadakan suprise dengan menghiasi ruangan Ibu Daly, dan membuat susunan acara yang tertata rapi samapi membuat video ucapan terima kasih, mengundang ex-staf Ibu Daly, membuat puisi, pokoknya kita adakan acara semeriah mungkin dengan tema "Terima kasih Ibu". Kami semua terharu diacara itu, Ibu Daly pun menangis, kami semua ikut menangis. Semoga Ibu lebih sukses di tempat yang baru.

Awal bulan Februari, saya pergi ke situs Geologi Gunung Padang untuk melihat hasil peninggalan zaman Megalitikum yang masih diperbincangkan kebenaran asal muasal munculnya situ ini. Pada trip ini saya menemukan teman-teman baru yang akhirnya kami melakukan perjalan bersama untuk selanjutnya. Dengan beberapa teman trip ini, pada awal bulan Maret saya menjelajah ke Kampung Naga, salah satu kampung yang masih terjaga kelestarian adat budayanya selain Kampung Baduy. Selain ke Kampung Naga, kita juga mendaki ke kawah Gunung Galunggung, melihat matahari terbit dan berkejar-kejaran dengan awan. Pertengahan bulan Maret saya kembali pergi ke Pantai bersama rombongan ibu-ibu pengajian, lumayanlah mengisi kekosongan di akhir pekan. Akhir bulan Maret, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Sumatera, yeaayyy, di akhir Maret ini saya melakukan perjalanan ke Tanah Minang, Padang. Perjalanan ini tujuan utamanya kondnagan, karena tema satu kantor ada yang menikah. Saya pergi ke Padang bersama Ibu Daly dan Tim P4, yup walaupun Ibu sudah tidak lagi menjadi pimpinan kami, namun kita tetap menjadi satu keluarga besar yang utuh, Insya Allah, aammin.

Hai April, upppsss ketemu bulan April lagi, kali ini, umur saya GENAP 25 TAHUN, hahahaaa. Titik umur yang kedepannya akan semakin mengkhawatirkan untuk para gadis seusia saya, apalagi kalau bukan pasangan hidup :) yaa semoga dipertemukan dengan sang gerangan oleh -Nya.

Bulan Mei ini juga banyak cerita, dari mulai bertemu kangen dengan wali kelas sekaligus guru Sejarah kesayangan waktu SMP, Bapak Paimin. Setelah pensiun, beliau tinggal di Yogyakarta, awal mei ini beliau datang ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan anak guru SMP tempat dulu saya sekolah. Diinfokan oleh seorang teman bahwa beliau bisa ditemui di rumah kakaknya. Meluncurlah saya, Nadia, dan Fahmi ke sana. Setelah berbincang panjang lebar tentang kisah kami dan kisa beliau, kami diberikan beberapa buku bacaan untuk menambah ilmu kami, senangnya bisa ketemu Bapak :).

Dan Akhir Bulan Mei Kemarin, tepatnya tanggal 22 - 24 Mei, saya kembali melakukan perjalanan ke Surabaya, tepatnya saya menjelajah Baluran di Situbondo dan mendaki ke Kawah Ijen untuk melihat Blue Fire. Im very happy, melihat kekayaan alam Indonesia itu membuat kita jelas merasakan bahwa Allah maha besar. yupp dengan alam, kita akan semakin merasa kecil dihadapan Tuhan. Alhamdulillah masih diberik kesempatana untuk melihat segala kehebatan ciptaan Allah. Subhanallah. dan di Gunung Ijen ini, untuk pertama kalinya saya foto dengan menggenggam Bendera Merah Putih, bendera negeri ini.

Minggu ini, saat saya menulis postingan ini harusnya saya baru turun dari Gunung Papandayan, tapi apa boleh buat, perlengkapan belum siap dan kondisi fisik masih lelah karena ke Gunung Ijen Kemarin jadi saya tidak jadi ikut pendakian ke Gunung Papandayan. Padahal Gunung Papandayan adalah gunung yang ingin sekali saya daki. Rasanya sebelum bisa sampai ke puncak Papandayan dan melihat hutan mati juga padang edelwise saya belum berani melakukan pendakian ke Gunung-Gunung lain.

****

Begitulah cerita perjalanan saya selama kurang lebih 2 tahun ini, menarik bukan. Hampir setiap bulan saya melakukan perjalanan, Alhamdulillah dikasih sehat, dikasih rezeki dan di kasih waktu untuk melakukan itu semua. Terima kasih Allah :)

****
FYI
saya lagi menunggu hasil dari kuis yang diadalan oleh @BlacktrailerID, @GuveraID dan @LorealMenID
hadiahnya berpetualang ke Goa Jomblang yang ada di Yogyakarta. Semoga saya salah satu pemenangnya. Kuisnya itu diminta sebutkan  3 kata yang menggambarkan laut Indonesia, saya menjawab laut Indonesia itu "menyatukan kepulauan Indonesia" dan serunya postingan saya langsung di retweet sama @DuniaMaritim Indonesia. Berharap bisa menang. Aamiin

***
Soal pendidikan lanjutan saya, saat ini saya sedang mencoba tes masuk UI untuk S2, gelombang pertama sih gagal, gelombang kedua harus lulus. Dan kalau lulus Insya Allah bisa ambil beasiswa nya, aamiin ya robalalaamiin.

cheers

*tulisan ini ga dibaca ulang dan ga direvisi lagi, jadi biarkan apa adanya saja.


Wednesday, 31 July 2013

Pasca Skripsi


Setelah akhirnya perjuangan mendapatkan gelar Sarjana, rasanya kembali bebas menulis apa yang ada di imajinasi dan pengalaman hidup.. Selamat datang kembali, selamat menulis kembali. Cerita demi cerita baik fiksi maupun non fiksi akan tergores lebih sering dari biasanya :)


 

Saturday, 15 June 2013

Ibuuuu, aku pengen naik gunung..


"Naik gunung..!!
naik gunuungg..!!
ibuuu aku pengen naik gunungg..
boleh yaaa... boleh yaaa buu??
sekali aja seumur hidup..
ya yaaaa boleh yaaa...
bbuuuu...."


aahh itu rengekkan anak 23 tahun yang kepengen naik gunung setiap kali liat teman-temannya (perempuan) berfoto di puncak gunung.. masih pantaskah diusia 23 tahun ini merengek pada orang tuanyaa.. yaa itulah aku, yang selalu merengek untuk mendapatkan izin orang tuanya terutama Ibu untuk diperbolehkan mendaki gunung. Sudah sejak duduk dibangku SD aku pengen bisa mendaki gunung, berdiri dipuncak gunung dan berfoto sambil memegang bendera Indonesia. waktu jaman SD pengen banget bisa mendaki ke Gunung Jaya Wijaya di Papua, tujuannya apa? cuma mau liat salju di Indonesia yang cuma ada di Puncak Jaya. Sampai sekarang pun keinginan itu masih menggebu di dalam kalbu.

semakin tumbuh dewasa, semakin banyak tau gunung-gunung yang bisa di daki di Indonesia. Semakin itu pula pengen aku dakiin satu per satu. Apalagi kalo liat temen-temen yang lain menunjukkan foto2nya di puncak gunung, aaaaaaa semakin iri... tapi tapiiii kenapa orang tua ga pernah kasih ijin untuk mendaki, ga Ibu ga Bapak, keduanya ga memperbolehkan. Setiap kali di tanya cuma diam atau kata-kata "jangan, resikonya besar". Dulu pengen ikutan UKM Mapala ga boleh, Menwa pun juga ga boleh, akhirnya just Pencak Silat. Pasti sebenernya alasan utama mereka gak mengizinkan hanya kekhawatiran yang berlebihan. Berebihan itu memang gak baik.

Pernah sewaktu-waktu, aku merengek dengan keras kepalanya agar dibolehin naik gunung, tapi yang ada kedua orangtuaku malah marah-marah. Yaa akhirnya aku diam dan mengalah.

Terkadang iri sama temen-temen yang diperbolehkan oleh orang tuanya naik gunung. Mereka kok boleh? mereka kan juga perempuan? mereka juga seumuran, bahkan ada yang lebih muda dari aku. aahh kenapa aku ga boleh? emang kenapa sih? pengen banget naik gunung..! pengen banget ya Allah. Kapan yaa ijin itu bisa turun? kapan? ahh mungkin ga akan pernah turun ijinnya. kalo gitu solusinya biar bisa naik gunung cari misua yang punya hobi naik gunung juga deh, eh?

Regards,
wdm

Sunday, 12 May 2013

Changes it so fast, so fast!


"Seiring berjalannya waktu, hati, sifat dan perasaan manusia bisa berubah" 

ini adalah quote dari seorang tokoh pembunuhan di salah satu seri Detective Conan, aahh lupa namanya siapa, komik yang seri ini juga entah di mana tersembunyi di rumah, yang jelas saya sangat terharu saat membaca kisah ini dan saya membenarkan kutipan tersebut, lengkapnya sih seperti ini (seingat saya :p) :

"20 tahun adalah waktu yang tidak sebentar. Seiring berjalannya waktu, hati, sifat dan perasaan manusia bisa berubah. Kalau saja waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke 20 tahun yang lalu, ketika semua mimpi dan harapan kita masih sama"

lalu Ran bertanya kepada Conan "Apa benar perasaan manusia itu bisa berubah? perasaan manusia yang terpisah jauh, menyakitkan ya kalau hanya menunggu?"

Berubah, yaa semua hal di dunia ini bisa berubah, kalau kata judul lagunya Jikustik "Tak Ada yang Abadi", yaa begitulah kehidupan tidak ada yang abadi, roda kehidupan kita akan selalu berubah dan berputar selama nafas ini masih berhembus. Perasaan, sifat, harapan bahkan mimpi seseorang bisa berubah dalam waktu yang tidak pernah manusia sipemilik itu duga, entah itu dalam hitungan, detik, menit, jam, hari, tahun, entahlah (sambil mengangkat bahu). mmm tungguu-tunggu tadi saya tulis "manusia sipemilik" bukan! bukan manusialah pemilik semua itu (rasa, sifat, harapan, mimpi) tapi Tuhan Semesta Alam, Allah S.W.T. lah pemiliknya. yaa Dialah sang pencipta, manusia dengan segala yang dianugerahkannya, rasa untuk merasa, membentuk sifat kepribadian, fikiran untuk selalu mengukir harapan dan mimpi-mimpi. Dan Dia pulalah yang maha membolak-balikkan semuanya, hati dengan perasaanya, fikiran dengan harapan dan mimpinya.

Begitu juga dengan kehidupan saya belakangan ini, banyak sekali perubahan hidup yang saya alami, banyak sekali mimpi-mimpi saya yang berubah, banyak sekali orang-orang yang masuk dan keluar dengan cepatnya dalam kehidupan saya. Orang-orang itu seperti perantara perubahan dalam kehidupan saya, Alhamdulillahnya mereka semua memberikan perubahan yang positif, menjadikan saya pribadi yang lebih baik lagi, memberikan saya semangat untuk melakukan tindakan nyata dalam mewujudkan mimpi, bahakan mereka memberikan ide untuk menciptakan mimpi-mimpi baru.

Bicara soal perubahan mimpi, kalau lihat postingan sebelumnya tentang mimpi, betapa saya ingin kuliah S2 di luar negeri ke Aussie, lalu beberapa waktu kemudian saya ingin sekali kuliah di Jepang atau Belanda, bahkan saya tiba-tiba sangat tidak berminat sama sekali ke Aussie, dan kemudian entah dari mana perasaan itu muncul, tiba-tiba saya ingin sekali ke Inggris, kuliah di sana, di Oxford, di Cambridge. Padahal dipostingan saya sebelumnya tentang negeri impian, nama Inggris sama sekali tidak tertulis, tapi kenapa saat ini Inggris adalah tujuan utama saya untuk sekolah, semakin hari keinginan itu semakin besar dan menggebu, aahh Inggris.. Inggris, sampai-sampai saya pernah mimpi ke Inggris dalam tidur saya (ah semoga itu bertanda akan jadi kenyataan :D).

Dengan extrovertnya saya menceritakaan kesemua orang betapa besarnya keinginan saya untuk sekolah ke Inggris, dan berapa banyak orang meyakini saya mampu kesana. Aaah rasanya ketika mereka yakin aku bisa, perasaan inipun semakin yakin kalau aku bisa. Banyak yang mendoakan, Alhamdulillah :). Tapi lagi-lagi mimpi itu berubah drastis, Inggris masih tujuan utama, namun bukan satu-satunya tujuan untuk kuliah, dan akupun kembali pada mimpi beberapa tahun lalu, yakni ke Jepang. Walaupun keinginan ke Jepang tidak pernah mati, tapi sempat tertutup seluruhnya oleh Inggris, dan sekarang pengen ke Jepang lagi, Ritsumeikan University mungkin pilihan yang cocok dengan jurusan yang mau saya ambil kemudian :).

Ahh tuh kan suka berubah-berubah gitu, bahkan perubahan yang kembali ke masa lalu. Hmm, jalani saja, dengan apapun perubahan tujuan itu, yang penting adalah tidak pernah berhenti melangkah dan berlari untuk mencapai tujuan itu.

(lagi-lagi saya stuck di akhir tulisan, dengan akhir tulisan yang gantung)

wdm

Wednesday, 10 April 2013

Ini tentang Hujan, Aku, dan Kau


Mungkin kau sudah lupa, atau bahkan ketika itu kau pun tak tau kalo hari dimana hujan menahanmu di sana untukku adalah salah satu hari terindahku yang mengukir tentangmu. Masih teringat dalam ingatanku, hari itu hari Senin sore, ketika sisa-sisa hujan masih mengguyur Kota Depok. Aku melihatmu berjalan dengan alunan kaki perlahanmu, kemeja marunmu membuat Kau selalu nampak lebih tampan. Lalu apa yang bisa aku lakukan? hanya menguntit dan memandangimu dari belakang. Kau tahu? saat itu aku takut, takut jika punggung yang kulihat semakin menjauh dan menghilang. Ah sudahlah, tak usah diingat lagi, lima tahun sudah berlalu bukan? sudah waktunya untuk dilupakan! Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati ini, walau aku mencoba melupakan namun jika kau tak menghendaki aku lupa maka aku takkan lupa, maka kupinta padamu jika dia tak akan pernah kembali untukku, buatlah aku lupa, buatlah hati ini melepaskannya.

Astiandini

Friday, 15 March 2013

Sulit Membedakan


Ini bukan hal membedakan yang mana yang baik yang mana yang buruk, saya tahu sekali bagaimana membedakannya.. Tetapi yang menjadi masalah adalah, saya kesulitan untuk membedakan mana orang yang baik kepada saya dengan tulus atau hanya sekedar kepura-puraan kebaikan. Hal ini terkadang menjadi paradoks bagi diri sendiri, mengapa? suatu ketika, seorang teman menyampaikan, "dia kan gak suka sama kamu (sebut saja Dia nya si A)" (perlu dianulir, suka disini suka dalam definisi pertemanan bukan suka dalam definisi terhadap lawan jenis, dan kedua teman saya ini adalah perempuan, dan hubungan saya dengan keduanya sangat baik). Sontak saya tidak percaya apa yang dikatakan teman saya yang pertama, mengapa? karena selama ini hubungan saya dengan si A berjalan baik-baik saja, dia sangat berprilaku baik kepada saya, begitupun saya memberikan feedback yang serupa. Lalu apa asusmi yang perlu saya gunakan? 

Asumsi pertama, apakah teman saya yang pertama itu cemburu bila saya berteman baik dengan si A?
atau asumsi kedua, jika si A itu memang tidak menyukai saya, tetapi hanya pura-pura berprilaku baik?

Ah ini terkadang yang membuat saya bingung, sulit untuk membedakannya, karena saya selalu menganggapnya baik. Ketulusan dalam berteman yang saya miliki mungkin menutupi hal-hal buruk yang tidak pernah saya pikirkan.

Baiklah tak usah digubris, selama dia berprilaku baik, kita berikan perilaku baik yang lebih. Siapa tau dengan tindakan lebih itu jadi akan mengubah mindset nya dari tidak menyukai menjadi menyukai.

Monday, 28 January 2013

Sang Bapak dengan anak perempuan bungsunya..


Tadi sore menjelang adzan maghrib, aku menghampiri bapak yang lagi asyik duduk di teras rumah sambil memandangi kuda besinya yang berwarna cokelat itu, si Meguro masih tetap berdiri dengan gagahnya dihadapan bapakku yang sudah semakin renta. 

Lalu beliau berkata kepadaku "Ini motor dijual sayang, udah puluhan tahun di sini, nemeni bapak kemana-mana nih motor, ke Bali, Lampung, Palembang, Yogya, (dan masih banyak lagi) tapi bapak udah gak kuat bawa Meguro, berat banget"

"makanya aku yang bawa sini, kan masih muda, masih kuat" jawabku

"gayaa kamu, Meguro lebih berat dari Pinky, Pinky aja kamu gak kuat bawanya"

aku hanya senyum-senyum aja dengar kata-kata beliau.

Kemudian beliau melanjutkan "jagoannya perempuan semua, belum tentu mantunya nanti bisa suka juga sama motor tua"

lalu aku menimpali "tenang ajaa Pak, nanti aku cari suami yang suka juga sama motor-motor tua" jawabku sambil bersanda gurau..

beliaupun ikut tertawa mendengar ucapanku "gak mesti anak motor, yang penting suka sama motor tua bapak"

"ssiippp tenang ajaa Pak" ucapku, "ini Meguro udah kayak isteri kedua yaa?" lanjutku.

Beliau kembali tertawa

"eehh enggak deh, udah kayak isteri pertama, orang yang lebih sering nemenin kemana-mana si Meguro, hehehee" ralatku dengan cepat.

Kamipun tertawa bersama. Kemudian adzan maghribpun berkumandang, kami bergegas masuk ke dalam rumah bersiap untuk shalat maghrib.

Begitulah sepenggal perbincangan antara Bapak dan anak perempuan bungsunya.

W. D. Marseno

Wednesday, 16 January 2013

Gemilang

In the early 2013, I have a songs and clip video that can make me have spirit, inspiration and motivation to get my dreams and my hope, the song from Andien that titled Gemilang. This song and clip video is very incredible with the show some a great woman Indonesia, which is they are has a great achievement to they self and other people and than to our country.

 

In the clip video show some quotes from the great woman, i.e :

"Gemilang adalah hasil dari pada totalitas yang pada akhirnya kegimalangan dihasilkan" (Christine Hakim)

"Bisa memberikan prestasi bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk orang banyak" (Susi Susanti)

"Sesuatu yang sebenarnya kecil tetapi punya pengaruh luar biasa untuk banyak orang" (Anna Avantie)

"Suatu keadaan yang dicapai seseorang yang tidak banyak orang lakukan " (Mutia Hatta)

"Semangat untuk melihat kedepan dan keyakinan kalau lita bisa raih" (Mira Lesmana)

I hope in the future in my life, I'm one of them, to be a good, professional, achievement and great woman.

Tuesday, 1 January 2013

Happy New Year 2013....


Duaarrr..!!! duaarr...!!! duarrrr...!!!
suara ledakan yang kemudian berubah menjadi pandangan yang indah, percikan bunga api yang mucul dari suara ledakan itu membuat serentak manusia di dunia terpana melihat keindahannya. Malam tahun baru memang selalu dihiasi oleh indahnya percikan bunga api itu, bahkan tak pernah bosan untuk melihat pemandangan yang sama di setiap tahunnya..

Tahun 2013 sudah datang dan tahun 2012 yang baru saja beranjak pergi meninggalkan sejuta kenangan, kenangan indah, bahagia, manis, kecewa, amarah, kesedihan, pahit atau bahkan kenangan lainnya yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata itu. Seperti manusia normal lainnya, aku pun memiliki sejuta kenangan di tahun 2012, kenangan disetiap bulannya, harinya, jamnya, detiknya bahkan kenangan persecond nya, setiap waktu yang ku lalui ditahun itu menjadikan sebuah kenangan yang bahkan tidak bisa di list kan satu persatu. Tapi yang jelas, semua kenangan itu menjadikan sebuah pelajaran berharga dalam kehidupanku, bagaimana aku membagi kebahagiaan dengan orang lain atau bahkan melunturkan perasaan kekecewaanku. 

Masaa yang tak pernah berhenti berlalu dan waktu yang tak pernah berhenti berputar, begitulah kehidupan, yang selalu diiringi keduanya. Di masa yang baru ini, di waktu yang baru ini, sejuta mimpi barupun ter-rajut dalam daftar pikiranku juga dalam hatiku, membuat hayalan-hayalan tentang akan mimpi yang akan membuat diri ini takjub ketika realitas dari mimpi itu mampu kugenggam. Keyakinan diri untuk mampu menggenggam mimpi itulah yang menjadikan aku mampu menggenggam mimpi. Merajut mimpi baru, bukan berarti aku harus meninggalkan mimpi-mimpi lamaku yang belum mampu ku genggam, namun akan terus kuperjuangkan sampai aku tak mampu lagi berpijak di tangga-tangga yang membawaku menuju puncak.

Tuhan, keluarga, sahabat, teman-teman dan orang spesial di hati, juga musik dan alunan lagu-lagu, ilmu agama, kisah kehidupan orang lain, cerita dalam cerita, cerita dalam lagu  yang selama ini menemani hari-hariku, membantu aku bangkit ketika aku jatuh, yang memebuat aku tetap beridiri kokoh ketika pijakan itu goyah, akan selalu kusertakan dalam setiap langkah menuju realitas mimpi dalam kehidupanku, di pikiranku dan juga di hatiku.

Selamat Tahun Baru 2013 untuk seluruh umat manusia di dunia..

*WD


Wednesday, 14 November 2012

School of Diplomacy - Poverty Energy


Dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 4 November 2012, saya dan teman saya Ermy mengikuti Sekolah Diplomasi, yang mana sekolah diplomasi ini mengajarkan kita kegiatan apa saja yang dilakukan jika kita mengikui Model United Nation atau simulasi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Sekolah diplomasi kali ini temanya adalah kemiskinan energy atau "Poverty Energy" yang mana isu ini memang lagi menjadi trend dunia internasional. Dalam sekolah ini saya menjadi perwakilan atau delegasi dari India sedangkan Ermy menjadi perwakilan Brazil. Setiap Delegasi mempunyai hak untuk memberikan suaranya baik pada saat sekolahnya maupun simulasinya. 

Hmmm unfortunately saya masih belum berani untuk berbicara di depan umum, alhasil pada saat sekolah, negosiasi maupun simulasinya, India tidak menggunakan hak suaranya, India tidak mempersentasikan solusi yang diguakan negaranya untuk mengatasi kemiskinan energy dengan inovasi Energy terbarukannya yakni Sumber Daya Matahari atau Surya. Itu semua gara-gara saya sebagai delegasinya, ehehe.. I'm very sorry India, sorry pardon. Padahal alternatif yang di gunakan India ini untuk mengatasi kemiskinan energy merupakan solusi yang sangat bagus dan dapat di contoh oleh negara-negara lain, salah satunya Indonesi, dengan iklim dan letak geografis Indonesia, Indonesia dapat memanfaatkan sumber daya matahari secara maksimal. Sehingga cadangan minyak dan batu bara Indonesia yang merupakan sumber energi tidak terbarukan tidak akan cepat habis. Kalau kata dosen saya, Indonesia hendaknya memanfaatkan sumber daya panas bumi secara maksimal untuk mengentaskan kemiskinan energy, tapi sayangnya pemerintah belum memberikan perhatian penuh ke arah sana. Padahal persediaan sumber panas bumi di negara kita itu sangat besar dibandingkan batu bara dan minyak bumi yang semakin hari semakin berkurang karena di eksplor terus menerus.

Balik lagi kemasalah sekolah diplomasi, sebenarnya saya sangat rugi karena tidak berani bersimulasi. Padahal saya ingin sekali bisa ikutan MUN, tapi bagaimana bisa, baru sekolah diplomasinya saja nyalinya udah ciut, tidak berani bersuara sekalipu. Bagaimana saya bisa menjadi Menteri Luar Negeri kalau dalam lingkup kecil dari baru simulasi saja saya tidak berani berdiplomasi, bernegosiasi dan mengutarakan pendapat saya. Bagaiman saya bisa menjadi perwakilan negara kalau saya seperti ini terus. Tapi, selain nyali, mungkin salah satu faktor lainnya, karena saya juga tidak percaya diri dengan kemampuan berbahasa inggris saya yang memang masih minim. Hadduuhh, sepertinya saya harus mengikuti les untuk bagaimana meningkatkan nyali dan kepercayaan diri dan terutama memang bahasa inggris di uatamakan. Yang mana memang acara ini full bahasa inggris. Saya harus bisa memimpin diri saya sendiri untuk meningkatkan kualitas diri saya, terutama yaa bahasa inggris ini.  Kenapa hal ini selalu menjadi hambatan sayaa untuk bisa go internasional -__-'. Aaahhh Ayooo semangat belajar bahasa inggrisnya dan belajar berani berbicara dengan bahasa inggris dengan tanpa melupakan bahasa indonesia :).

 
Satu-satunya foto yang saya ambil pada saat sekolah diplomasi. Sebenernya malu untuk share foto ini karena saya tidak melakukan apa-apa untuk India. Tapi ini semata-mata hanya saya jadikan motivasi untuk terus belajar-belajar dan belajar.

warm regards,
Astiandini

Thursday, 8 November 2012

"Andai Aku Jadi Ketua KPK"


Di suatu sore, di kedai kopi yang biasa di pinggiran kota Jakarta, dua sejoli yang menggemari kopi bersantai sejenak setelah pulang dari mengemban ilmu. Sambil menikmati hangatnya kopi dan diiringi alunan butiran hujan, mereka berduapun terlibat percakapan :

Sambil memperhatikan mobil-mobil yang tertahan kemacetan dan menyeruput kopinya, Disya menghela napasnya dan bertanya kepada teman karibnya, Nugi "adduuhh kapan Jakarta bisa lancar pas jam pulang kantor seperti ini ya Gi?" ucap Disya tanpa mengalihkan pandangannya ke Nugi.

Nugi yang sedari tadi membaca koran Tempo hari ini menutup korannya dan menjawab pertanyaan Disya "yaahh kalau koruptor udah tidak ada lagi, baru jalanan di Jakarta bisa lancar" terlempar senyum getir ke Disya.

"Loh? apa hubungannya koruptor dengan jalanan Jakarta yang macet?" tanya Disya heran.

Nugi kembali tersenyum, tapi kali ini tidak getir "yaaa ada dong Sya, kamu tau penyebab kenapa Jakarta macetnya kelewatan kayak gini?

"ummm yaaa karena kuota mobil yang berlebihan, makanya jalanannya tidak cukup menampung, jadi macet deh"

"Nah itu salah satunya Sya" ucap Nugi, "tapi selain itu penyebab utamanya karena adanya korupsi, tau kenapa?

Disya menggeleng

Nugi membetulkan posisi duduknya dan menjelaskan serius ke pada Disya "karena adanya pembangunan yang gagal dibangun Sya, kenapa gagal dibangun? karena dana untuk pembangunan banyak yang dikorupsi sama penjahat-penjahat kerah putih itu. Contohnya kayak gini deh, misalnya pemerintah berencana mau membangun fasilitas umum yakni jalan raya untuk menanggulangi kemacetan, pelebaran jalan misalnya, nah dana yang udah dianggarkan untuk pelebaran jalan itu malah di korupsi sama pejabat-pejabat tidak bertanggung jawab, otomatis jadi gagal dong pembangunan jalannya atau paling tidak, jadi tidak efektif dan tidak maksimal deh"

Disya meng-angguk-angguk tanda mengerti "Oohh begitu yaa Gi, jadi bisa dibilang pembangunan-pembangunan yang gagal itu gara-gara banyaknya korupsi yaa"

"Bener banget tuh Sya" jawab Nugi membenarkan ucapan Disya, "Nah generasi kita lah yang harus memberantas para koruptor-koruptor itu" dengan ekspresi semangat, Nugi melanjutkan.

"Bener banget tuh Gi, generasi kita ini nih yang menjadi harapan bangsa kedepannya" jawab Disya tak kalah semangatnya, "kamu aja Gi yang jadi ketua KPK nya kelak, aku dukung banget deh 100%, asalkan kamu tetep amanah menjalankan tugasnya, berantaass para koruptor, jangan malahan nanti kamu yang diberantas, ehehehe" ledek Disya sambil tertawa kecil.

Nugi pun ikut tertawa mendengar celotehannya Disya "Nah emang itu Sya pekerjaan yang paling aku inginkan, yang sekarang ini sedang aku fokuskan untuk masa depan kelak, menjadi ketua KPK. Makanya sekarang aku lagi belajar giat dan baca-baca kasus korupsi juga mempelajarinya, agar nanti kalau aku jadi Ketua KPK aku bisa menjalankan amanah dengan baik, menguasai permasalahan dan dengan menggunakan cara dan strategi yang tepat untuk memberantas para koruptor itu"

"Waaahhh luar biasa banget cita-cita temen aku yang satu ini, semangat yaaa Gi" ucap Disya sambil tersenyum bangga.

"Hehehee, makasih yaa Sya" Nugi terdiam sejenak, kemudian melanjutkan "kalau kita mau merubah keadaan bangsa dan negara kita agar bebas dari korupsi, maka pimpinlah..!!!, jadilah ketua KPK..!!!"

"Emangnya klo kamu udah jadi Ketua KPK kamu mau melakukan perubahan apa Gi?" tanya Disya

"Andai aku jadi Ketua KPK kelak, hal paling utama adalah aku harus memulai dari diriku sendiri, yakni Independen, bebas dari intervensi-intervensi negatif yang bersumber dari pihak kiri. Kedua aku harus berani, berani menolak kerjasama yang tujuannya mengkhianati negeri ini hanya untuk kepentingan dan menguntungkan diri sendiri yakni suap. Ketiga, aku harus berani menghadapi orang-orang yang akan menjatuhkan aku jika aku menolak kerja samanya untuk menjadi pengkhianat negara. Itu semua diperlukan integritas yang kuat dalam diri kita Sya"

Nugi menghela napas, dan kemudian melanjutkan "Setelah hal-hal itu tertanam di diri aku Sya, aku akan menularankannya dan menerapkannya kepada bawahanku, kepada seluruh anggota KPK lainnya. Siapa yang mau jadi anggota KPK, maka haruslah mempunyai satu visi yang sama yakni memberantas korupsi. Jika salah satu anggota KPK terbukti melakukan tindak korupsi sekecciiiillll apapun, langsung usut, tindak, tangkap, pecat, adili, penjara! gak ada negoisasi lagi. Pokonya aku mau buat KPK benar-benar bersih dari tindakan koruspi terlebih dahulu sebelum aku membersihkan para koruptor di luaran sana"

Disya hanya tertegun mendengar ucapan Nugi yang ber api-api tanpa sedikitpun menimpali.

"Setelah KPK bersih dari tindak korupsi" Nugi melanjutkan "dan anggota memiliki integritas, loyalitas, jujur dan dapat dipercaya. Aku bersama-sama anggotaku akan memberantas para koruptor-koruptor itu, tangkap, pecat, adili, penjara..!! siapapun dia, dari latar belakang keluarga siapa dia, menjabat apa dia, punya pengaruh besar apa dia, jika terbukti korupsi maka tangkap, pecat, adili, penjara..!!

"terusss hukuman apa yang akan kamu kasih ke para koruptor itu Gi" tanya Disya penasaran

"Oohhh tentu saja dengan hukuman yang sangat adil dan tegas" Jawab Nugi

Belum sempat Nugi menambahi Disya sudah menyelaknya "hukuman mati maksudnya?"

"Bukan Sya, menurut aku, kalau kita kasih hukuman mati ke para koruptor sama aja kita seperti mereka, melanggar hak asasi manusia, yakni hak untuk hidup. Jadi aku lebih memilih menghukum mereka dengan mengambil semua harta mereka yang dihasilkan dari korupsi saja, jadi kalau hartanya yang didapat bukan dari hasil korupsi tidak akan diambil, ingat! mereka punya keluarga, anak, istri yang harus di nafkahi. Harta korupsi itu akan dikembalikan kepada negara atau bahkan akan aku serahkan langsung kepada rakyat, misalnya dengan cara membangun tempat tinggal rakyat, sekolah rakyat yaa pokoknya semua untuk rakyat dan geratis tentunya. Kedua, mencopot jabatannya dan tidak boleh lagi menjabat dan bekerja di pemerintahan. Ketiga, dihukum kurungan penjara selama umur dia hidup atau yang sering disebut dengan hukuman penjara seumur hidup, misalnya pejabat yang terbukti korup umurnya 40 tahun, maka dia dipenjara selama 40 tahun dan hukuman itu berlaku untuk seluruh besaran yang di korupsi. Jadi mau korupsi dengan jumlah sedikit atau banyak, yaaa sama-sama dihukum penjara seumur hidup. Menurut aku itu cukup adil dan tegas. Oh iya satu lagi, dan dengan tegas menolak sogokkan untuk nambah fasilitas para koruptor di penjara, seperti fasilitas khusus gitu deh tv, kasur empuk atau diizinin jalan-jelan ke Bali, ehehehe"

mendengar perkataan Nugi yang terakhir, Disya pun tertawa terbahak-bahak "waahh kamu emang cocok banget deh jadi ketua KPK Gi, kok mendengar semua impian kamu itu untuk memberntas korupsi, aku jadi pengen jadi Ketua KPK juga, bener kata kamu 'jika ingin memberantas korupsi maka pimpinlah.. jadilah Ketua KPK' dengan memimpin kita bisa melakukan itu semua"

"Iyaa Sya, walaupun kita tidak akan pernah bisa menghilangkan korupsi secara total, karena setiap negara pasti ada tindakan korupsinya, sekecil apapun itu. Tapi paling tidak kita bisa menguranginya secara signifikan dan dapat memberikan kesejahteraan dan kepuasaan kepada rakyat"

Dua sejoli itupun akhirnya punya pengharapan yang sama "Andai Aku Jadi Ketua KPK"

Lomba blog KPK : http://t.co/T13dYMWm

Mulailah, then I would be..


Satu lagi kenalan saya lolos dapat beasiswa ke luar negeri, tepatnya ke Tunisia namnya Hanz..setelah beberapa teman, kenalan, atau sekedar mengisi list friends di facebook saya yang bisa studi ke luar negeri. Ada yang ke Turki kayak kak Akmal dan Andrian, ada yang ke German kaya Inna, ada yang ke Korea kayak temannya kak Yunus, ada yang ke Jepang kayak kak Bhakti dan orang yang dekat dengan saya sendiri yakni Paman saya namanya Djagal W. Marseno, ada yang ke Inggris kayak temennya kak Sonny dan temennya kak Andi dan bahkan kak Andi sendiri ke Singapore. Semuanya itu studi di luar negeri with scholarship betapa bangga dan bahagianya keluarga mereka, teman mereka, sahabat mereka dan terutama betapa bangga dan bahagianya diri mereka sendiri.

Saya selalu bertanya-tanya sama diri saya "kapan?" kapan saya bisa seperti mereka? kapan waktu itu tiba? kapan.. kapan... kapan... sebenaranya kapan saya bisa studi ke luar negeri itu yang menentukkan adalah diri saya sendiri. Kenapa saya bilang seperti itu? yup saya sendiriliah yang menentukan kapan saya bisa studi di luar negeri, karena untuk bisa studi ke luar negeri kita perlu mempersiapkan diri kita terlebih dahulu, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa memenuhi syarat-syarat agar bisa mendapatkan kesempatan sekolah ke luar negeri dengan beasiswa. Kapan saya harus mulai untuk memenuhi persyaratan-persayaratan itu? kapannya, saya sendirilah yang menentukan. contohnya untuk studi di luar negeri pasti dibutuhkan score yang tinggi dari  TOEFL, IELST atau apapun itu namanayaa, nah kalo kita gak pernah mau mulai untuk belajar belajar dan belajar dan memperdalam bahasa inggris, maka score yang disyaratkan pun juga gak akan pernah terpenuhi, yaa kaann?? semakin lama kita memulai berjuang untuk memenuhi itu semua semakin lama pula kita mendapatkan kesempatan untuk studi di luar negeri.

Oleh sebab itu "MULAILAH" memulai untuk memperjuangan mimpi-mimpi kita, kalau kita tidak pernah memulainya maka kita juga tidak akan pernah mendapatkannya. Seperti suatu masalah, masalah itu tidak akan pernah selesai jika kita tidak mau memulai untuk menyelesaikannya. Seperti seseorang yang ingin menjadi penulis, kalau mereka tidak memulai untuk membuat sebuah tulisan maka mereka tidak akan pernah jadi penulis. Begitu juga penyanyi, presiden, menteri, dosen, dokter atau apapun itu, mereka tidak akan pernah bisa 'menjadi' jika mereka tidak memulainya. Ada akhir, pasti ada awal terlebih dahulu, tidak mungkin akhir ada kalau tidak ada awal.  

Jadi, ayoo kita berani dan mau memulai, berkomitmen dan mempunyai integritas untuk memulai,  dan belajar memimpin diri kita sendiri, yang bersumber dari keinginan yang paling dalam dari diri kita seperti dalam proses Presencing dalam U Theory, keinginan yang terdalam untuk memulai mendapakan apa yang kita inginkan, kita harapkan dan kita cita-citakan..  Tapi di luar kuasa dan kendali kita, Allah lah maha penentu segala, kita hanya bisa berdoa, berusaha berusaha dan terus berusaha dengan mencoba memulainya.. maka, MULAILAH...

Wiyasti D. Maresno


Wednesday, 5 September 2012

Harvard Project for Asian and International Relation


Pernahkah teman-teman mempunyai suatu keinginan besar dan kemudian itu terwujud? Saya yakin pasti sebagian besar dari kalian pernah mengalaminya ketika kalian benar-benar berusaha untuk mewujudkannya bersungguh-sungguh dan fokus dengan pencapaian itu. Begitu juga dengan saya. Saya memiliki keinginan di mana saya menginginkan suatu perubahan besar dalam diri saya yakni selama saya masih duduk di bangku kuliah saya bisa menjadi delegasi Indonesia dalam dunia Internasional salah satunya adalah konferensi  internasional yang diadakan oleh Harvard University dalam programnya yakni HPAIR (Harvard Project for Asian and International Relatioan) further infonya bisa dilihat langsung di sini www.hpair.org. Menjadi delegasi HPAIR di tahun 2012 ini adalah target saya, dan sudah tertulis di buku agenda saya.

Dari mana saya tahu tentang konferensi internasional tersebut? Dulu saya pernah memiliki seseorang yang saya suka dan saya kagumi. Dari dialah saya mengetahui tentang acara ini, dimana dia pernah  menjadi delegasi Indonesia dalam konferensi HPAIR tersebut beberapa tahun yang lalu. Seperti yang pernah saya tuliskan dalam beberapa postingan saya sebelumnya, pemuda tersebut adalah sesosok pemuda yang mmmm luar bisa dalam perspektif saya. Dari dialah saya banyak mendapatkan wawasan, pelajaran, ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang mengaggumkan, yah walaupun itu semua saya dapatkan secara tidak langsung. Saya mempelajari tentang kehidupannya melalui pengamatan saya sendiri yang saya dapatkan dari sosial media atau sumber informasi yang bisa dipercaya. Nah berawal dari situlah saya ingin tahu tentang segala hal yang belum pernah saya sentuh dalam kehidupan saya, ingin mencobanya, mengalaminya, mempelajarinya dan menjadi bagian dari pengalaman yang luar biasa tersebut. Saya melakukan pembenaran dari sebuah statment yang saya dapatkan dari Tumblrnya kak Kuntawi Aji, yang menyatakan bahwa “terkadang Tuhan mendatangkan seseorang dalam kehidupan kita bukan untuk kita miliki, melainkan untuk memberikan pelajaran lalu kemudian pergi” saya rasa statment itulah yang sedang saya alami saat ini, ketika dimana pemuda yang saya idam-idamkan itu hadir, memberikan pengetahuan dan pembelajaran dan sesudah saya tahu dan melek akan dunia itu luas dia pun pergi, menjauh dari kehidupan saya. Dan mungkin dalam waktu yang cukup lama dia akan menetap di negeri orang.

Dari semenjak dia menjadi delegasi HPAIR ini saya pun juga ingin menjadi salah satu delegasinya. Bertahun-tahun saya ingin mencoba tetapi betapa takut dan tidak percaya dirinya saya untuk memulai semua itu karena saya tahu ada keterbatasan diri saya yang tidak memungkinkan diri saya untuk terjun dalam dunia Internasianal. Alasan klasiknya adalah saya tidak fasih berbahasa inggris dengan baik, bahkan untuk tingkat menengahpun saya rasa saya belum mencapainya. Hingga pada suatu ketika saya dipertemukan dengan seorang dosen senior di dalam beberapa mata kuliah saya, beliau selalu memberikan wejangan kepada mahasiswanya bahwa kita harus bersungguh-sungguh dalam  belajar, bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, bersungguh-sungguh dalam mewujudkan apa yang kita inginkan dan kita cita-citakan dan bersungguh-sungguh dalam semua hal dalam seluruh aspek yang kita jalani dalam kehidupan ini. Kata-kata bersungguh-sungguh itulah yang menggetarkan hati saya untuk bernai mencoba untuk merealisasikan sesuatu yang saya impikan.
Dan hingga pada akhirnya, beberapa bulan yang lalu ketika saya meregistrasikan akun saya di web HPAIR dan mendapatka informasi bahwa HPAIR akan mengadakan konferensi di Taipei, saya mencoba mendaftarkan diri sebagai delegasi HPAIR dari Indonesia. Awalnya saya ragu, karena masih dengan satu alasan yang sama yakni kemampuan komunikasi inggris saya, tetapi karena seorang teman yang baru saya kenal bernama Fajar yang juga mendaftarkan diri sebagai delegasi HPAIR yang memberikan saya sebuah semangat, memberikan saya motivasi dan keyakinan pada diri saya untuk mencoba mencoba dan mencoba mendaftar walaupun hanya dengan bermodal nekad dan tekad. Seleksi administrasipun saya ikuti dengan isian sekedarnya, yang mana sekedarnya itu adalah kemaksimalan kemampuan saya. Betapa terkejutnya saya dan senang bukan main ketika sebulan kemudian pihak HPAIR mengirimkan saya sebuah e-mail untuk melakukan wawancara melalui Skype, hal ini memberitahukan bahwa saya lolos seleksi administrasi dan proses seleksi berikutnya adalah wawancara. Setelah sepakat menentukan kapan waktu dan tanggal wawancara, saya segera menghubungi teman saya Riza untuk menemani saya ketika wawancara berlangsung, karena faktor takut. (sebenernya untuk seleksi wawancara ini ada sedikit kendala, tapi saya rasa tidak perlu di paparkan, bukan karena tidak penting tapi karena faktor malu :D).
Oke baiklah waktu pengumuman akhir telah tiba setelah beberapa lamanya menunggu, satu pesan e-mail dari HPAIR pun saya terima yang menyatakan :



Kalian pasti sudah tahu bagaimana perasaan yang saya rasakan saat melihat dan membaca rangkaian kata demi kata dari pesan itu, perasaan yang tidak bisa saya ungkapkan, tidak bisa saya jabarkan dan paparkan dalam sebuah bentuk tulisan. Bahagia luar biasa, bersyukur luar biasa kepada Allah S.W.T. Saya masih sungguh sangat tidak percaya dengan keputusan yang panitia HPAIR buat yakni meloloskan saya dalam seleksi ini, saya bisa lolos dalam persaingan internasional. Kedua orang tua saya, teman-teman saya ikut senang dibuatnya. Satu hari setelahnya LoA (Letter of Acceptance) atau surat/undangan resmi dari HPAIR untuk saya pun saya terima. (Terima kasih kepada Bapak Waluyo yang telah mengajari saya tentang hal bersungguh-sungguh, salam hormat)




Setelah seleksi yang memainkan ribuan perasaan itu berakhir, hal selanjutnya adalah mencari teman yang juga di terima sebagai delegasi HPAIR dari Indonesia. Satu persatu teman saya dapatkan, dari berbagai daerah dari berbagai universitas dan dari berbagai negara, Alhamdulillah lancar. Hal selanjutnya yang harus dipikirkan dan dilakukan adalah bagaimana mencari pihak-pihak yang bersedia mensponsori kita untuk berangkat konferensi yang akan di selenggarakan di Taipei pada tanggal 24-24 Agustus 2012 lalu ini, inilah hal yang paling penting diantara hal penting lainnya karena biaya acara ini ditanggung sepenuhnya oleh delegasi. Dalam waktu dua minggu paling tidak kami harus bisa mendapatkan dana sebesar biaya pendaftaran atau registrasi ulang yang mana batas pembayaran terakhir jatuh pada akhir bulan Juni.
Selama dua minggu itu saya mencoba mencari-cari info tentang perusahaan-perusahaan yang memungkinkan untuk memberikan sponsor, menyebarkan proposal ke sebanyak-banyaknya instansi yang saya bisa seperti yang dipesankan teman saya Fajar, sayang Fajar tidak diterima sebagai delegasi padahal saya percaya kemampuan dia jauuhh melebihi saya, dia pernah ikutan konferensi internasional juga sebelumnya, pasti dia lebih berpengalaman dari saya, tetapi kenapa saya diterima dia tidak? hanyalah Allah S.W.T yang tahu akan jawaban itu. Karena keterbatasan waktu dan biaya, proposal tersebut saya sebarkan melalui e-mail perusahaan, walaupun ada juga yang saya kirim langsung seperti ke departemen jurusan, fakultas dsb.

Dalam proses pencarian sponsor, saya berkenalan dan bertemu dengan beberapa anak UI yang juga diterima sebagai delegasi HPAIR yakni Alya (FE), Vinda (FISIP), Bestari (FE), dan Merisa (FIK) selain itu ada juga Gladis (FK) tapi dia dari USU. Akhirnya kami memutuskan membuat suatu tim kecil untuk mencari sponsor, terutama untuk ke bagian mahasiswa kampus. Setelah data masing-masing dari kami dikumpulkan, jadi lah sebuah proposal, proposal ini telah rampung di H-5 dari registrasi pembayaran. Ketika desain dari proposal kita itu mau di bawa ke percetakan, saya jadi ragu apakah dalam waktu kurang dari satu minggu bisa mendapatkan sponsor? sedangkan biaya yang dibutuhkan untuk registrasi itu cukup besar i.e US$375 dan untuk bayar registrasipun uang tabunganku belum mencukupi. Akhirnya dari pada nantinya akan sia-sia, sebelum proposal itu dibawa ke percetakan dan di cetak banyak saya memutuskan untuk mundur dari tim kecil ini. Karena aku tau aku tidak bisa menalangi untuk biaya pendaftarannya terlebih dahulu. Kedua orang tua saya padahal mau membantu membiayai, tapi saya-nya yang menolak, sebab bulan ini berbarengan dengan pembayaran kuliah yang mana notabene nya bayar kuliah ekstensi itu mahaaaalll, melebihi biaya S2 per-semester di rumpun ilmu sosial dan di tambah lagi orang tua saya yang sudah pensiun, manaa tegaa saya. 


Tadinya saya juga sempat bingung, antara terima tawaran orang tua atau tidak terima, tapi akhirnya saya dimantapkan oleh salah satu teman saya untuk menolak tawaran itu, dia bilang seperti ini "kalau ragu ga usah diterusin, gitu aja.. seberapa besar keuntungan ini program buat masa depan lu, sebanding ga dengan pengorbanannya". Tidak perlu pemahaman dua kali atau berfikir dua kali lagi untuk menolak, saat membaca pesan dari Ermy ini hati saya mantap untuk mundur dari tim dan menolak tawaran orang tua. Tetapi walau sudah mundur dari tim itu saya tetap masih berusaha mencari sponsor semampu saya, sampai batas waktunya berakhir. Dan sudah bisa ditebak, untuk kali ini saya tidak dapat memanfaatkan kesempatan konferensi internasional untuk pertama kalinya.


Tetapi ini semua bukanlah suatu kegagalan buat saya, melainkan suatu pengalaman berharga, suatu awal yang mengagumkan seumur hidup saya bisa tembus ke dunia internasional dan tercapainya target saya untuk bisa menjadi delegasi HPAIR di tahun 2012 walaupun akhirnya tidak bisa berangkat ke Taipei untuk menghadiri konferensinya. Ini merupakan awal yang baik akibat dari bersungguh-sungguh. Dengan ketidak mampuan saya menghadiri konferensi itu, memberikan pembelajaran kepada saya, bahwa kita tidak bisa hanya mengandalakan sponsor saja tetapi juga harus punya modal pribadi. Jadi pesan saya untuk teman-teman adalah, kalau ingin mengikuti konferensi internasional kita juga harus mengumpulkan modal terlebih dahulu dan itu bisa di dapat dengan kerja kerja kerja. Dan dengan hal dimana saya bisa lolos seleksi HPAIR ini adalah pembuktian dari Allah bahwa saya mampu dan bisa untuk belajar ke luar negeri nantinya, ke INGGRIS..INGGRIS..INGGRIS... :D aamiin ya Allah..

Sekarang yang harus saya lakukan adalah melakukan perbaikan diri, belajar..belajar..belajar..  memperbaiki bahasa inggris, mengumpulkan modal, mencari beasiswa dan tentu saja harus menambah wawasan dengan baca..baca..baca.. Juga tidak lupa untuk selalu berdoa dan bersungguh-sungguh.

nb : dari tim kecil itu yang jadi berangkat hanya 3 orang i.e Merisa, Gladis dan Bestari.

Regards,

Thursday, 23 August 2012

Lebaran vacation = pulang kampung


Seumur hidup setiap lebaran itu saya ga pernah yang namanya pulang kampung, tapi bukan berarti saya penduduk asli Jakarta, hanya saja sesepuh saya alias mbah buyut saya yang tinggal di Jawa sudah tak ada lagi sedangkan mbah saya yang dari kedua orang tua saya semuanya tinggal di Jakarta, merekapun kini telah tiada, hhiikksss. So sehubungan kedua orang tua saya anak tertua yang mana pengganti orang tua, alhasil setiap lebaran seluruh keluarga besar Marseno (keluarga Bapak) maupun Soedalmo (keluarga Ibu) kumpulnya di rumah, pastinya rumah jadi sangat ramai dan tentunya masak ketupat beserta teman-temannya selalu dalam porsi besar.

Well balik lagi ke masalah pulang kamu, udah dua kali lebaran, tahun lalu dan tahun ini saya dan kakak saya (Mba Tiwi) pulang kampung tapi pulang kampungnya ke kampung orang, lhoo kok bisaa?? iyaa jadi kampungnya itu kampung punya sepupu saya Pipit dan Puput, lokasinya di Brebes sekitar 314km dari Jakarta, karena berangkatnya malam pas hari H lebaran jadi Jakarta-Brebes bisa di tempuh dalam waktu 4-5 jam, cepett yaa dibandingkan berangkatnya sebelum hari H lebaran. Jadi kemarin tuh habis lebaran di rumah, pagi-pagi buta esokkan harinya kami berangkat ke Brebes tepatnya ke Desa Kersana.

Kami sampai disana sekitar pukul delapan pagi, yang utama kita cari adalah kassuurr, hehehe.. yup kami ngantuk banget dan cukup lelah di perjalanan jadi wajar kalo yang di cari pertama adalah kasur. Di Desa Kersana, udah ada beberapa perubahan, tahun lalu di depan rumah Mbah Sukarman (red : Omm Mulyono father, Pipit & Puput grandfather) itu masih ada sawah dan kebun-kebun gitu, sekarang tempat itu lagi di bangun untuk bendungan. Padahal menurut saya, sayang banget kalo sawahnya di gusur padahal desanya jadi terlihat labih asri klo pemandangannya itu sawah dan kebun.

Di sana kami gak lama cuma dua hari satu malam, sebab Oom Mulyono (red: Pipit & Puput father) ada panggilan apel hari Rabu paginya. Hari pertama disana di isi dengan acara tahunan keluarga besar Mbah Sukarman. Acaranya itu berbentuk arisan keluarga yang di adain tahunan, memang sederhana tapi dampak yang di timbulkannya lebih dari sederhana, yakni luar biasa. Bayangkan acara arisan ini bisa mempersatukan dan mempererta jalinan silaturahmi dalam satu keluarga besar yang sekarang tempat tinggalnya terpencar ke berbagai daerah, ada yang di Jakarta, Tangerang, Cirebon, dan Tegal. Acara yang biasanya diadakan H+1 di Desa Kersana ini mewajibkan seluruh anggota keluarga yakni anak-anaknya Mbah Sukarman hadir dalam kumpul keluarga ini, inilah yang membuat keluarga Mbah Sukarman menjadi harmonis dan solid. Setelah acara selesai, kami pergi ke makam mbah-mbah dan saudara-saudara yang sudah tiada, makamnya ga jauh dari rumah, mungkin hanya 20 meter, kami mengirim doa bersama disana. Sehabis dari makam, kami main ke bendungan yang masih di garap itu, dari sana bisa terlihat pemandangan sunset loh. Dari banyaknya keluarga yang berkumpul, saya jadi punya tambahan kenalan saudara, ada Ari & Nana (anaknya Pakde Kismo), ada Jafar beserta 2 adiknya (anaknya Lik siapa yaa, lupa hehe), ada Yudha (anaknya Bulik Warni) yang setia jadi photografer kita disana, ada Rendra & Rizky (anaknya Oom Yudi) yang lucu-lucu banget dan ada Yurin (anaknya Oom Kusrin) yang lucu dan punya rambut kriting spiral.

Malam harinya, kami menikmati pesta kembang api, di sana banyak yang nyalain kembang apa yang melemparkan bunga apinya di angkasa. Ternyata Oom Mulyono bawa kembang api serupa, semakin ramai saja pesta kembang apinya, yeeaahh sangat menyenangkan. Setelah semua kembang api habis dinyalakan, kami lanjutkan dengan bercengkraman bersama keluarga, kami ngobrol membahas apa saja yang bisa dijadikan bahan obrolan. Hari semakin larut, udah banyak yang menuju alam mimpi, tapi saya, Pipit, Puput dan Yudha malahan nonton film di laptop kepunyaan Yudha. Film yang kami tonton ga banyak, cuma dua, dari film yang bikin kami tegang karena action nya Fast and Furious 5 sampai diredakan dengan film Johnny English Reborn yang bikin kami ketawa-tawa. Setelah film kedua selesai ditonton, saya, Pipit dan Puput bergegas untuk mengikuti yang lainnya yakni menuju alam mimipi, meninggalkan Yudha di ruang tamu bersama laptopnya dan Oom Mulyono yang sedari tadi menemani kami nonton tetapi sambil tidur :)

****

Malam berganti pagi lagi, pagi hari di hari kedua di sana gak banyak yang dilakukan, hanya aktivitas biasa saja (ngobrol, nonton tv, makan, dan tak lupa foto-foto :)). Oh iyaa tapi ada satu hal yang kami lakukan di pagi hari yang bikin berkesan, yakni menyembelih ayam, yup Mbah Sukarman punya ternak ayam sendiri loh, jadi lauk untuk sarapan pagi ini adalah ayam dari kadang sendiri, wahh asik yaa. Sekitar jam sepuluhan, tadinya saya, Pipit, Puput dan Mba Tiwi mau ikut nganter Bude Kismo, Ari juga Nana pulang ke Tegal (Pakde Kismo-nya udah pulang duluan ke Tegal kemarin sore) tetapi ternyata mobilnya gak cukup, jadi cuma Oom Yudi dan keluarga juga Yudha saja yang nganter ke Tegal. 

Hari ini rencana kita mau pulang ke Jakarta, berangkat sehabis maghrib karena besok paginya Oom Mul harus apel, tetapi ternyata telor asin pesenan Omm Mul belum matang dan matangnya sekitar jam sembilan malam. Akhirnya sambil menunggu telor asin itu masak, kami bersilaturahmu ke rumah Mbah Subekti dan kedua kakak perempuannya (lupa namnay mbah siapa ;)). Letak rumah mbah-mbah ini dekat sekali dari rumah Mbah Sukarman, mungkin ga sampai 50 langkah kaki juga sudah tiba di rumah mereka. Setelah asik melahap kue-kue di rumah mbah-mbah itu, waktupun menunjukan pukul sembilan lewat, kami bergegas kembali ke rumah Mbah Sukarman dan menyiapkan barang-barang untuk kembali pulang ke Jakarta. Setelah semua barang-barang masuk mobil dan berpamitan pulang, berangkatlah kami menuju Jakarta.

Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, kami sempat singgah dulu di Cirebon, mengantar Bulik Warni dan Yudha ke kediamannya. Hanya memakan waktu satu jam untuk sampai di Cirebon dari Brebes. Sesampainya disana, Oom Mul dan Tante Didin (Pipit & Puput mother) sejenak merebahkan badannya dari rasa lelah dan kami sempat menikmati teh hangat, kue dan masakannya Bulik Warni loh. Sambil menunggu Oom Mul dan Tante Didin selesai beristirahat, kami bercengkraman membahas kemana Yudha akan melanjutkan studinya nanti yang sekarang dia sudah kelas tiga SMA. Kalau ayahnya, ingin dia masuk ke pendidikan kepolisian, STPDN, STTD atau jadi Pilot, terus si Pipit & Puput mempromosikan UGM tempat sekarang mereka kuliah dan tentu saja aku juga menghasut Yudha untuk kuliah di UI. Pasti si Yudha semakin dilema mau pilih yang mana, sedangkan saat di tanya dia minatnya dimana, Yudha bilang belum tau, "masih gelap" katanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi, ketika Oom Mul terbangun dari tidurnya berkata "klo tadi ga bangaun sendiri, sampe jam empat pagi juga ga ada yang bangunin ini" hehehe. Karena di kejar waktu, langsung saja kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan pulang. Akhirnya setelah empat jam perjalanan, tibalah kami di Jakarta, tiba di rumah, bersih-bersih dan kemudian tidur :)

sekian
*lebaran kali ini sungguh sangat berkesan, saya jadi bisa merasakan suasana pulang kampung :D

nb: fotonya belum bisa di upload karena masih nunggu kiriman email dari Yudha, nanti setelah saya terima foto-fotonya dari Yudha akan segera saya upload :)