Time is Flow

Saturday, 18 August 2012

Dirgahayu Negeriku Indonesiaku ke 67


Selamaatttt Pagiiii Nusantara, karena semangat jiwa pancasila dan nasionalisme saya, pagi-pagi abis imsak dan sholat subuh dengan terngantuk-ngantuk saya sempatkan membuat postingan dalam rangka untuk mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan untuk negeri tercintaku, tanah air negeriku Indonesiaku, tempat aku dilahirkan dan menututp mata kelak... Biar kita selalu semangat, tulisan postingan ini saya kasih warna merah yang memiliki arti keberanian dan merupakan makna dari warna merah di bendera negeri kita Sang Saka Merah Putih.. 

Berhubung umur saya yang sudah bukan anak sekolahan lagi, yang menghargai perjuangan kemerdekaan dan para pahlawan dalam berjuang mati-matian untuk memerdekakan Indonesia dari para penjajah dan perjuangan mempertahankan NKRI dengan cara melakukan upacara bendera, upacara kemerdekaan 17 Agustus, maka saya putuskan untuk memberikan suatu penghormatan kepada pahlawan dan negeri ini dengan cara membuat postingan di blog saya sebagai tanda cinta saya kepada tanah air Republik Indonesin, asikasik..

Terkadang saya suka heran kenapa yaa upacara bendera tidak dilaksanakan secara rutin setiap hari Senin di kampus-kampus seperti di sekolahan gitu. Makna dari upacara bendera itu kan untuk menumbuhkan semangat jiwa pancasila dan meningkatkan rasa nasionalisme yang tinggi dari para pemuda terhadap negara, tapi malahan dikalangan mahasiswa (kampus) atau di kalangan pemuda yang merupakan aktor-aktor sebagai pondasi keutuhan NKRI malah tidak dilakukan upacara bendera. Dan kenapa juga tidak ada mata kuliah Sejarah di setiap jurusuan, terutama Sejarah yang membahasa perjuangan RI, yang menurut saya itu adalah pelajaran wajib yang harus di pahami oleh kalangan pemuda (hehehe wah bisa-bisa saya didemo dan ditimpukin mahasiswa se-Indonesia nih karena menyarankan untuk mengadakan pelajaran Sejarah di setiap jurusan di tambah menyerukan upacara bendera rutin setiap hari Senin, yaaaa atau paling enggak sekali dalam satu bulan lah).

Hari Kemerdekaan RI kali ini jatuh pada hari Jum'at, hari yang sama 67 tahun silam ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan yang menandakan Indonesia telah bebas merdeka. Bebas? Merdeka? Huh omong kosong, katanya negar kita sudah bebas merdeka, tapi nyatanya masih banyak penjajahan yang terjadi di negeri kita, baik penjajah asing maupun parahnya penjajah lokal. Penjajahan oleh asing di umur Indonesia yang menapak 67 tahun ini dilakukan dengan membangun perusahan-perusahan asing di Indonesia untuk mengeruk semua harta kekayaan alam Indonesia, merampok habis-habisan sumber daya alam Indonesia baik itu minyak, tembaga, emas, batu bara bahkan pohon berkualitas yang dimiliki Indonesia. Dan lebih parahnya lagi semua itu di legalkan oleh oknum pemerintah kita, oleh penjajah lokal, dimana dengan hal itu mereka bisa memperkaya diri mereka sendiri dengan tindakan pidana korupsi atau yang dikenal dengan sebutan Tipikor. Hal itu sungguh sangat merugikan ibu pertiwi kita, memiskinkan rakyat dan menyengsarakan rakyatnya Indonesia, rakyatnya sendiri.

Huuuffhhh bikin emosi jiwa memang kalo membicarakan hal itu, lebih baik kalau kita cerita tentang detik-detik kemerdekaan RI 67 tahun silam. dimulai pada tanggal 6 Agustus & 9 Agustus 1945 yakni jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Bom yang jatuh di dua kota besar di Jepang itu menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 15 Agustis 1945 yang diumumka oleh Kaisar Hirohito kepada masyarakat interenasional melalui radio NHK yg merupakan jaringan resmi radio Jepang. Hal ini menyebabkan terjadi kekosongan kekuasaan atas Jepang di Indonesia. 

Tokoh pemuda Sutan Syahrir adalah orang pertama yang mendengar berita menyerahnya Jepang, yg diterimanya melalui radio yang tidak disegel oleh pihak Jepang yakni BBC. Siang hari pada tanggal 15 Agustus 1945, Syahrir mendesak Soekarno dan Moh. Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sesegera mungkn tanpa melalui PPKI. Sempat terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua (Soekarno-Hatta) dengan golongan muda mengenai cara pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut golongan tua pelaksanaan proklamasi kemerdekaan harus dibicarakn melalui rapat PPKI terlebih dahulu. Namun Syahrir menganggap PPKI adalah buatan Jepang. Oleh karena itu, Proklamasi kemerdekaan melalui PPKI akan memberikan kesan bahwa kemerdekaan RI itu adalah pemberian dari Jepang.

Perbedaan pendapat antar dua golongan ini menyebabkan golongan muda menculik atau mengasingkan Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok, dengsn tujuan agar proklamasi kemerdekaan yang lepas dari pengaruh manapun termasuk Jepang harus segera dilaksanakan. Soekarno dan Moh. Hataa harus diamankan keluar Jakarta agar terlepas dari pengaruh Jepang dan memproklamasikan kemerdekaan sesuai kemauan kalangan muda. Tokoh-tokoh pemuda yang ditugasi untuk mengasingkan Soekarno dan Moh. Hatta adalah Sukarni, Jusuf Kunto dan Shodanco Singgih. Kota Rengasdengklok dipilih untuk mengasingkan Soekarno dan Moh.Hatta karena kota Rengasdengklok yang dekat dengan Kerawang itu terletak 15 km dari jalan raya, hal itu berakibat geraka tentara Jepang dari Jakarta, Bandung & Jawa Tengah dapat diketahui. 

Kesudahan dari peristiwa ini adalah bahwa Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan segera setelah kembali ke Jakarta, lalu Shodanco Singgih menyampaikan kesediaan Soekarno kepada golongan pemuda yang berada di Jakarta. Soekarno menjamin bahwa proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakn pada tgl 17 Agustus 1945 sebelum pukul 12.00 wib. Atas dasar kesepakatan itu Ahmad Subarjo berangkat ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Moh.Hatta. Teks proklamasi dirumuskan di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Moyokodori yg bersedia menjamin keselamatan tokoh-tokoh yang berkumpul. Tiga tokoh yg menjadi pelaku perumusan teks proklamasi adalah Soekarno, Moh. Hatta dan Ahmad Subarjo.

Teks prokalmasi terdiri dari dua kalimat yang merupakan sumbangan pemikiran dari Moh. Hatta & Ahmad Subarjo. Kalimat pertama merupkn pernyataan kemauan Bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Kalimat kedua merupakan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan (Transfer of Sovereignity). Naskah otentik proklamasi yang sudah diketik oleh Sayuti Malik dan ditandatangani Soekarno dan Moh. Hatta atas nama Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 itu resmi dikumandangkan di kediaman Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No.56 yang tadinya akan dilaksanakan di lapangan Ikada (lapangan sudut tenggara Monas). Karena pembacaan proklamasi di lapangan itu akan menimbulkn bentrokan antara rakyat & pasukan Jepang akhirnya dilaksanakn di rumah Soekarno.

Dalam upacara proklamasi kemerdekaan ada tiga tahap bagian, yakni yang pertama adalah pembacaan teks proklamasi dangan pidato singkat yang dikumandangkan oleh Soekarno dan didampingi oleh Moh. Hatta. Tahap yang kedua adalah pengibaran Sang Saka Merah Putih. Pengibaran bendera yang dijahit oleh Fatmawati Soekarno itu dilaksanakan oleh S.Suhud dan Shodanco Latief. Seiring berkibarnya Sang Saka itu, serentak rakyat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang menjadi dirigennya adalah SR Trimueti. Dan tahap terakhir dalam upacara proklamasi kemerdekaan itu adalah sambutan dari Suwiryo dan dr.Muwardi. 

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan disebar ke seluruh Indonesia melalui tulisan, dari mulut ke mulut maupun melalui media massa seperti pamflet yang ditempel di gerbong kereta api dan tempat-tempat yang strategis, melalui Kantor Berita Domei (kantor berita Antara), melalui surat kabar Cahaya dari Bandung dan Soeara Asia dari Surabaya, melalui utusan keberbagai daerah maupun melalui stasiun radio Joso Kauri Kyoku yakni RRI pusat. Proklamasi kemerdekaan memiliki makna dan arti penting bagi Bangsa Indonesia yakni merupakan perwujudan niat dan tekad rakyat Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah. Dengan tekad dan kekuatan sendiri, ingin menentukan nasib sendiri atau mengatur pemerintahan sendiri.. MERDEKA....

Begitulah sepenggal kisah di detik-detik kemenagan rakyat Indonesia melawan penjajah hanya dengan menggunakan bambu runcing dan cinta tanah air yang begitu luar biasa kepada Ibu Pertiwi, Indonesia...

"You cam love your country without love your government"
Dirgahayu Republik Indonesia, Happy independence day my beloved country, Indonesia..

with love 

Friday, 17 August 2012

Prolog : Langit Biru Di Pinggir Danau Kenanga


Tiba-tiba saja Langit datang ke kedai kopi yang biasa dikunjungi Anin, memang tidak susah kalau mencari Anin di hari Selasa sore, dia pasti selalu ada di sana, jadwal rutin katanya. Tepat sekali tebakan Langit, Anin memang ada di sana, seperti biasa menikmati Choco Coffee menu favoritnya dengan ditemani dua benda yang selalu menjadi kaki tangannya, buku ensiklopedia dan juga laptop Fujitsu 13 ichnya itu hadiah pemberian dari pamannya. Tampak ragu-ragu langkah Langit untuk menghampiri Anin, ia tidak yakin apa yang akan dikatakannya kepada Anin, tapi Langit tidak bisa lagi menunda terlalu lama "katakan sekarang atau tidak sama sekali" bisik yakin dari hatinya. 

Anin yang dengan serius memahami rantaian kata demi kata dalam buku yang selalau menemani dia menikmati tetesan rasa kopi kesukaannya tak menyadari kedatangan Langit yang kini telah duduk di kursi kosong yang hanya terpisahkan oleh meja berbentuk lingkaran dengan tinggi yang tak mencapai satu meter. Anin dikagetkan dengan suara khas bassnya yang dimiliki Langit ketika memanggil namanya, dengan jantungnya yang berdegup tak stabil dan perasaan yang tak karuan Langit membenarkan duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Anin yang membuktikan bahwa Langit ingin berbicara serius. 

Tanpa basa-basi Langit menceritakan bahwa dia terpilih untuk dipindah tugaskan dua tahun mendatang ke Potsdam yang merupakan ibu kota dari sebuah negara bagian Jerman yakni Brandenburg, kota ini mengelilingi ibu kota Jerman yakni Berlin. Pemindah tugasan ini merupakan hal yang sangat di idam-idamkan oleh Langit, Anin pun senang bukan main ketika sahabatnya sedikit lagi akan mewujudkan impiannya itu. Tapi ada hal lain yang di ungkapkan Langit yang kemudian membuat Anin menjaga jarak dari Langit dan membuatnya ragu akan perasaannya ke Bima. 

Apakah yang dikatakan Langit yang seketika membuat perasaan Anin terombang ambing dan membuatnya lebih sering menyendiri? kita tunggu jawabannya kalau novel pertama saya ini telah diselesaikan, walaupun belum tau kapan tulisan ini akan selesai hehehe... akhir tahun ini, satu tahun lagi, dua tahun lagi atau bahkan tiga tahun lagi, tapi yang jelas Insya Allah saya mau menyelesaikan tulisan ini, Bismillahirohmannirrahim... :)

Wednesday, 15 August 2012

El Nino, Sorry Pardon..!!


Mungkin memang benar kata orang-orang ataupun petuah orang tua jaman dulu atau juga kitab agama, katanya klo kita punya kesalahan sama sesorang ituuu kalo belum minta maaf akan menghantui kitaa kemanapun kita melangkah sampai kapanpun nafas kita berhembus, dan itulah yang gue alamin sekarang, kesalahannya udah hampir 3 tahun dan gue belum mengutarakan kata maaf sama orang yang menerima tindakan kesalahan gue dan kesalahan itu terjadi atas keegoisan gue semata atau mungkin karena waktu itu mood gue kurang bagus atau gue juga lagi sensitif atau apapun itu yang jelas gue marah sama dia tanpa alasan yang jelas.

Sebut saja namanya El Nino, dia itu teman SMA gue dulu, kita gak pernah sekelas dari kelas satu sampai kelas tiga, dia dulunya anak IPA sedangkan gue anak IPS. Kenapa gue panggil El Nino, soalnya dia suka banget sama Liverpool dan pemain yang paling dia suka ini si Fernando Torres yang punya julukan El Nino. Dulu gue juga sering manggil dia gitu, El Nino. Kita baru jadi teman baik setelah lulus SMA, kita jadi suka ngobrol, sharing pengalaman bahkan kita juga saling suka ceritain gebetan kita masing-masing, dia juga bahkan pernah bantuin gue waktu bikin karya tulis pas mau ikutan seleksi BEM di kampus pokoknya banyak hal-hal lainnya. Lucu memang, waktu di sekolah dulu kita ga pernah saling komunikasi, palingan cuma tau nama sama orangnya aja, nah pas udah lulus baru deh saling komunikasi. Tapi gara-gara kesalahan yang gue buat, hubungan kita jadi renggang, gak pernah ngobrol lagi bahkan buat sms-an aja cuma pas hari-hari penting kayak tahun baru atau hari raya Idul Fitri.

Ini semua berawal dari keegoisan gue waktu itu, jadi sekitar tiga tahun yang lalu itu kita chatingan di YM, dia yang memulai untuk bercerita, dia menceritakan masalahnya blaa blaa blaaa.. setelah dia ngomong panjang lebar akhirnya selesai juga dia curhatnya. Sekarang giliran gue, giliran gue..!! tapi pas gue baru mau mulai cerita dia bilang kalo dia gak enak badang kepalanya pusing dan gue diminta untuk ceritanya besok aja, ouch what the hell?? padahal waktu itu gue udah ga sabar mau ceritain masalah gue walaupun masalah gue itu gak penting pastinya buat dia, tapi waktu itu gue emang lagi bener-bener pengen ceritain masalah gue dan mendapatkan nasihat dan pendapat dari dia. Tapi apa yang gue dapet? dia bilang seperti itu. Secara spontan tensi darah gue naik, gue marah, gue gak terima, gue kesell bukan main waktu itu. Dan tanpa membalas pesannya di YM gue pun langsung me-non-aktifkan chat YM gue. Keesokan harinya pas gue online chat, dia minta maaf ke gue, dan gue acuhin pesannya dia dan permintaan maaf dari dia begitu aja, semua itu gue lakuin karena gue masih marah dan masih kesal. Padahal dia kan beneran lagi sakit, kenapa gue ga ngerti yaa, egois banget, cuma masalah spele padahal. hhuffhh, semenjak saat itu hubungan kita jadi renggang dan jarang komunikasi gak pernah cerita-cerita lagi :(

Jujuuurr gue merasa kehilangan, kehilangan teman baik, kehilangan teman cerita, kehilangan teman yang suka ngasih nasihat dan solusi, kehilangan teman bercanda. Pengen rasanya bilang ke dia dan minta maaf, mau bilang kalau gue nyesel huhu, tapi apa daya, gue gak berani bilang, heh cemen.Dan kalaupun gue bilang sekarang juga gak akan merubah semuanya untuk kembali seperti dulu lagi. Bisa punya teman cowo yang bisa dipercaya dan bisa jadi tempat curhat itu bukan suatu hal yang gampang buat gue, gak semudah cari teman baik cewe. Mungkin kalo suatu hari dia baca post gue ini, dia bisa maafin gue, maafin gue yaa El Nino :). Mungkin kedengerannya ini lebay dan annoying banget buat lo, tapii emang perasaan gak enak itu masih ganjel sampe sekarang, childish banget ya kalo diinget-inget kelakuan gue dulu. Pengen bisa akrab kayak dulu lagi...

Sorry Pardon El Nino :)



Keluarga Waktu : Belum Dapat Judul yang Tepat

Seperti biasa, setiap hari para penghuni Desa Hari itu selalu hadir untuk mewarnai penghuni Kota Bumi.. Dari awal mula terbentuk sampai nanti kemudian masa Desa Hari itu ditiadakan, penghuni Desa Hari hanya memiliki satu keluarga bernama Keluarga Waktu yang terdiri dari 4 anggota keluarga ada Ibu Pagi, Pemuda Petang, Nona Senja dan Tuan Malam.. Ibu Pagi tidak pernah bertemu dengan Nona Senja, dan Pemuda Petang tidak pernah bertemu dengan Tuan Malam begitu juga sebaliknya, padahal mereka satu keluarga dan berada di tempat yang sama yaitu di Desa Hari. Mungkin memang alamnya sudah dibuat seperti itu. Mereka hadir diwaktunya masing-masing sesuai dengan putaraan Kota Bumi dan titik poros Matahari. Pada suatu ketika di pergantian waktu, Ibu Pagi melihat Pemuda Petang sedang murung dan bermalas-malasan untuk melaksanakan pekerjaannya dan menggantikan tugas Ibu Pagi yakni mewarnai Kota Bumi.

"Hai Pemuda kenapa wajahmu tidak enak dilihat seperti itu, muram, kusut, tidak semangat, biasanya kau sangat senang bila Penghuni Kota Bumi ingin cepat-cepat menyambutmu datang dan kenapa kau sebagai pemuda tidak lebih semangat dibandingkan aku?" Tanya ibu Pagi.

Pemuda Petang rasanya malas sekali menjawab pertanyaan dari Ibu Pagi yang seperti Ibu-Ibu penghuni Kota Bumi, ramai, banyak tanya dan selalu mau tahu urusan orang lain walaupun Ibu Pagi ini sangat perhatian. Dengan suara parau Pemuda Petang menjawab pertanyaan Ibu Pagi "Musim panas telah datang Bu Pagi, pasti penghuni Kota Bumi tidak suka kehadiranku, karna aku ini membawa panas menyengat membuat para penghuni Kota Bumi malas beraktifitas, malas keluar rumah dan bahkan mencemoohku karna aku membawa panas" seruu Pemuda Petang.

"Ahahahaha" Ibu Pagi tertawa mendengar ucapan sang Pemuda Petang "kenapa kau menghawatirkan hal itu Petang? bukankah para penghuni Kota Bumi selalu menunggu kehadiranmu untuk bisa meninggalkan sejenak kesibukan mereka, kau selalu ditunggu untuk melepas lelah dipertengahan aktifitas mereka, kau di tunggu untuk merebahkan sebentar punggung mereka ke sandaran kursi, kau selalu ditunggu mereka untuk mengisi perut mereka dengan makanan-makanan lezat" ucap Ibu Pagi yang merasa terhibur oleh alasan dari Pemuda Petang yang membuatnya murung tapi sekaligus turut prihatin.

Pemuda Petang hanya tersenyum getir kepada Ibu Pagi, yaahh walaupun dia memikirkan kembali perkataan Ibu Pagi yang ada benarnya juga, penghuni Kota Bumi selalau menunggu kedatangannya. Walau panasku membakar permukaan kulit penghuni Kota Bumi tapi para penghuni itu tak jarang menyempatkan waktunya untuk makan siang bersama keluarga, kerabat, teman atau para partner mereka. Memang aku merasa senang sekali melihat ekspresi bahagia penghuni Kota Bumi saat sedang berkmpul makan siang. Dan tentu saja, di penghujung pekerjaannya, Pemuda Petang akan dapat bertemu dengan Nona Senja, melihat keindahan yang dipancarkan oleh Nona Senja membuat semua lelah yang ia rasakan setelah bertugas hilang begitu saja, lamunan itu membuat Paman Petang tersenyum-senyum sendiri.

"Hmmm..." Ibu Pagi merasa kebingungan melihat tingkah Pemuda Petang, cepat sekali dia merubah mimik muka yang dimilikinya. "Seharusnya aku yang merasakan apa yang kamu rasakan hei Pemuda" Ibu Pagi melanjutkan " Setiap pergantian Desa Hari dan kepergian Tuan Malam, bukankah aku tidak diharapkan hadir untuk mengisi kehidupan para Penghuni Kota Bumi, bukankah menurut mereka kedatangnku di awal hari merupakan awal masalah baru bagi mereka? hah?" Ibu Pagi menekankan pertanyaan itu pada Pemuda Petang, dan kemudian tersenyum lebar diikuti dengan lembutnya kata demi kata yang diucapkannya "tapii Pemuda, aku tidak pernah mengeluh, aku tidak pernah meminta penciptaku untuk mengakhiriku, aku selalu memberikan keceriaanku kepada para Penghuni Kota Bumi itu ketika mereka menyambut pagi, sehingga mereka bisa juga menyambutku dengan ceria, aku selalu membuat mereka menyukaiku, aku selalu memberikan yang terbaik bagi mereka, udara yang sejuk di pagi hari, matahari yang memberikan kehangatan di dinginnya udara pagi yang terkadang membuat seluruh tulang mereka terasa ngilu dan aku selalu memberikan warna keindahanku kepada mereka tanpa sedikitpun aku membenci mereka, membenci pekerjaanku ataupun membenci takdirku, yahh walaupun terkadang apa yang kita lakukan belum tentu membuat mereka suka, huuffhh" Ibu Pagi menghela nafas panjang seperti baru saja lari satu putaran di Kota Bumi.

Kini gantian Pemuda Petang yang merasa prihatin mendengar isi perasaan Ibu Pagi, ternyata perspektif para Penghuni Kota Bumi terhadap kedatangan Ibu Pagi lebih menyakitkan di bandingkan kehadirannya. Benar saja mereka menganggap kedatangan Ibu Pagi sebagai awal masalah baru bagi mereka. Pemuda Petang hanya dapat memberikan seulas senyuman ketulusan yang mungkin dapat menenangkan hati Ibu Pagi sekarang, dia tak mau memperkeruh perasaan Ibu Pagi dengan perkataan yang akan ia keluarkan untuk menenangkan Ibu Pagi, menurutnya sebuah senyuman sudah cukup membuat Ibu Pagi juga akan tersenyum untuk membalas senyumannya.

Tak lama membalas senyum ketulusan Pemuda Petang, akhirnya Ibu Pagi pamit undur diri untuk segera beristirahat "Baiklaahhh Pemuda, sudah datang waktumu dan aku harus segera kembali pulang" sambil membayangkan halusnya dan tebalnya cloud cumulus yang semakin aktif menebal disetiap kepergian Ibu Pagi dan awal kedatangan Paman Petang untuk melengkapi kesempurnaan Desa Hari. Seraya awan ini memang diciptakan untuk menyambut rasa lelah Ibu Pagi setelah habis bekerja, bisa berbaring di atasnya merupakan hal yang paling menyenangkan, namun semua itu hanyalah ilusi belaka Ibu Pagi. Dalam kenyataannya Keluarga Waktu tidak pernah beristirahat, mereka selalu bekerja sampai dunia ini kiamat, sampai tak ada lagi alam semesta, Kota Bumi dan para penghuninya karena mereka selalu berpindah-pindah tempat untuk mewarnai daerah yang satu ke daerah lainnya yang mengisi Kota Bumi.

Pemuda Petang pun memulai pekerjaannya setelah kepergiaan Ibu Pagi, "hmmm semoga Ibu Pagi sedang menerangi belahan Kota Bumi lainnya yang memiliki pemandangan yang indah agar kesedihannya hilang" ucapnya dalam hati. Kejadian yang belum lama terjadi bersama Ibu Pagi membuat Pemuda Petang bekerja dengan penuh semangat dengan dihasi senyum ketulusan dan tak hentinya mencoba untk selalu melakukan yang terbaik untuk mewarnai Kota Bumi. Tapi satu hal yang tak dapat ia hindari, perasaan yang selalu ingin dengan cepat menyelesaikan tugasnya, bukan karena lelah ataupun rasa kesalnya terhadap penghuni Kota Bumi yang selalu mencibirnya tetapi karena setiap di akhir pekerjaannya, dia dapat melihat paras lembut nan anggun yang selalu memancarkan aura kedamaian, yaa Senja, Nona Senja.

Astiandini

Saturday, 16 June 2012

Cerita Fiksi Pertama : Kota Mati ataukah Surgawi?


Aku berjalan, kemudian terdiam, memandang sekelilingku yang bagaikan kota mati, yaa kota mati..!! "aakhh kenapa aku merasa begitu, padahal bagi orang yang berbahagia hari ini, kota ini bak surgawi" ucapku dalam hati. kemudian dari belakang tiba-tiba ada yang menepuk-nepuk punggungku, tentu saja aku tersentak kaget melihat siapa makhluk yang menyentuhku itu, wajahnya yang bersih, rambutnya yang lurus terurai dan senyumnya yang ramah meresonansikan kenangan masa lalu, tepatnya 2 tahun lalu. Terakhir aku melihat senyuman ramah itu ketika untuk terakhir kalinya kekasihku memintaku untuk melupakannya, yaa tepat hari ini, 2 tahun lalu, memintaku untuk melupakannya atau bahkan membencinya dan masih terbayang dalam mataku senyumnya sambil berkata "maaf" sebelum memintaku melupakannya. Dia berkata padaku bahwa dia telah memilih lelaki lain dan memutuskan untuk menikah dengannya minggu depan, katanya lelaki itu sudah di jodohkan dengannya oleh orang tua mereka, ketika mereka masih kecil. Tapi mana mungkin benar mereka dijodohkan, orang tuanya saja dapat menerimaku dengan baik, bahkan kedua orang tuanya sangat mempercai aku untuk menjaga anak gadis semata wayangnya, mana mungkin dia dijodohkan, ahh pasti dia berbohong padaku, pirkirku.

Aku menolak alasan dia yang tidak masuk akal, dan terus menuduh dia berbohong dan tak henti-hentinya menuduh dia menduakanku. Benar saja, akhirnya di mengakui kalau beberapa bulan ini dia menjalin hubungan dengan lelaki lain, dan yang lebih parahnya, kekasihku berkata bahwa ia telah menanam benih dengan lelaki selingkuhannya itu, dan harus segera menikah. Aku shok bukan main, kedua kakiku terasa tak menapak bumi, tak bisa kubayangkan lemasnya tubuhku mendengar ucapannya, raga bagaikan tak bernyawa, hatiku hancur terluka. Benar-benar tak bisa kubayangkan, kami menjalankan hubungan ini semenjak dibangku SMA, dan kini umur kami sudah 26 tahun dan aku sudah memantapkan diri untuk menjadikan dia pendamping hidupku, andai dia tahu saat kejadian itu terjadi, saat dia memintaku untuk bertemunya, aku telah menyiapkan sebuah logam mulia berbentuk lingkaran yang ingin aku lingkarkan di jari manisnya, yaa aku berniat melamarnya saat itu, memintanya menjadi istriku, yaa tepat hari itu. Tapii apa yang aku dapati, di menghianati ku, penghianatan yang tak pernah aku duga sebesar itu, yaa Tuhan.

Dan kini, tepat dua Tahun lalu aku melihatnya kembali, senyum itu, wajah itu, oh Tuhan, kenapa? kenapa Kau pertemukan aku dengannya lagi setelah dua tahun lalu, setelah aku lupa kalau aku terluka, kenapa Tuhan? Tiba-tiba suaranya membuyarkan lamunanku akan 2 tahun lalu "maaf mas, apa mas tau alamat ini" tanya wanita itu dengan terheran melihat ekspresiku yang kaget melihat kehadirannya, aku pun tambah terkaget mendengar petanyaan yang terlontar dari mulutnya itu "dia tak ingat aku? dua tahun apakah waktu yang cukup untuk melupakanku, apakah dia lupa pernah menyakitiku, melukai hatiku", kemudian wanita itu melanjutkan "saya Nena, saya baru pindah ke Jakarta 4 hari yang lalu, dan saya sedang mencari rumah ayah tiri saya, apa mas tau alamat ini dimana?", "Nena?" sahutku dalam hati, nama kekasihku bukan Nena, lantas siapa dia? lalu kuambil kertas berisikan alamat rumah itu dari tangannya, dan aku tambah tercengang melihat alamat itu, rumahnya disebelah rumahku, tepat disebelah rumahku tanpa ada rumah lain yang menghalangi.

Lalu kembali ku melihat ke arahnya, aku melihat dengan seksama garis wajahnya, kilauan rambutnya yang hitam terkena tetesan sinar matahari di sore itu, dan senyumnya yang menususk-nusuk raga ini, hati ini. Kemudian akupun tersada, Ya Tuhan, benar saja kalo namanya berbeda, walau garis wajah, rambut berkilaunya dan senyumnya yang jelas terlihat sama dengan kekasihku dan benar saja kalau dia tak mengingat aku, sebab, dia memang bukan kekasihku 2 tahun lalu, ini orang yang berbeda, dan tak mungkin dia kekasihku karna kekasihku bukan pergi menghianatiku dengan laki-laki lain, setelah seminggu dia bilang telah menghianati aku dan akan menikah dengan laki-laki yang menghamilinya, dia memang pergi meninggalkanku, tapi bukan untuk menikah dengan lelaki lain melainkan dia pergi ke tempat Penciptanya, yaa kekasihku telah pergi menemui sang penciptanya, dan aku baru tahu setahun kemudian setelah di pergi. Kanker otak, kanker otak yang membuatnya menghianatiku, yang membuatnya melukaiku, menghancurkan hidupku. Dia berbohong kepadaku agar aku membencinya sehingga dapat dengan mudah aku melupakannya. Dan hari ini, tepat 2 tahun lalu Kau mengirimkan wanita yang benar-benar mirip dengan kekasihku, Ohh Tuhan apa rencanamu, apakah dia reinkarnasi dari kekasihku, dan mengapa dia akan tinggal di dekatku, di sekelilingku. Apakah selanjutnya kota ini akan tetap menjadi kota mati atau akan bak surgawi bagiku.