Time is Flow

Wednesday, 31 July 2013

Pasca Skripsi


Setelah akhirnya perjuangan mendapatkan gelar Sarjana, rasanya kembali bebas menulis apa yang ada di imajinasi dan pengalaman hidup.. Selamat datang kembali, selamat menulis kembali. Cerita demi cerita baik fiksi maupun non fiksi akan tergores lebih sering dari biasanya :)


 

Saturday, 15 June 2013

Ibuuuu, aku pengen naik gunung..


"Naik gunung..!!
naik gunuungg..!!
ibuuu aku pengen naik gunungg..
boleh yaaa... boleh yaaa buu??
sekali aja seumur hidup..
ya yaaaa boleh yaaa...
bbuuuu...."


aahh itu rengekkan anak 23 tahun yang kepengen naik gunung setiap kali liat teman-temannya (perempuan) berfoto di puncak gunung.. masih pantaskah diusia 23 tahun ini merengek pada orang tuanyaa.. yaa itulah aku, yang selalu merengek untuk mendapatkan izin orang tuanya terutama Ibu untuk diperbolehkan mendaki gunung. Sudah sejak duduk dibangku SD aku pengen bisa mendaki gunung, berdiri dipuncak gunung dan berfoto sambil memegang bendera Indonesia. waktu jaman SD pengen banget bisa mendaki ke Gunung Jaya Wijaya di Papua, tujuannya apa? cuma mau liat salju di Indonesia yang cuma ada di Puncak Jaya. Sampai sekarang pun keinginan itu masih menggebu di dalam kalbu.

semakin tumbuh dewasa, semakin banyak tau gunung-gunung yang bisa di daki di Indonesia. Semakin itu pula pengen aku dakiin satu per satu. Apalagi kalo liat temen-temen yang lain menunjukkan foto2nya di puncak gunung, aaaaaaa semakin iri... tapi tapiiii kenapa orang tua ga pernah kasih ijin untuk mendaki, ga Ibu ga Bapak, keduanya ga memperbolehkan. Setiap kali di tanya cuma diam atau kata-kata "jangan, resikonya besar". Dulu pengen ikutan UKM Mapala ga boleh, Menwa pun juga ga boleh, akhirnya just Pencak Silat. Pasti sebenernya alasan utama mereka gak mengizinkan hanya kekhawatiran yang berlebihan. Berebihan itu memang gak baik.

Pernah sewaktu-waktu, aku merengek dengan keras kepalanya agar dibolehin naik gunung, tapi yang ada kedua orangtuaku malah marah-marah. Yaa akhirnya aku diam dan mengalah.

Terkadang iri sama temen-temen yang diperbolehkan oleh orang tuanya naik gunung. Mereka kok boleh? mereka kan juga perempuan? mereka juga seumuran, bahkan ada yang lebih muda dari aku. aahh kenapa aku ga boleh? emang kenapa sih? pengen banget naik gunung..! pengen banget ya Allah. Kapan yaa ijin itu bisa turun? kapan? ahh mungkin ga akan pernah turun ijinnya. kalo gitu solusinya biar bisa naik gunung cari misua yang punya hobi naik gunung juga deh, eh?

Regards,
wdm

Sunday, 12 May 2013

Changes it so fast, so fast!


"Seiring berjalannya waktu, hati, sifat dan perasaan manusia bisa berubah" 

ini adalah quote dari seorang tokoh pembunuhan di salah satu seri Detective Conan, aahh lupa namanya siapa, komik yang seri ini juga entah di mana tersembunyi di rumah, yang jelas saya sangat terharu saat membaca kisah ini dan saya membenarkan kutipan tersebut, lengkapnya sih seperti ini (seingat saya :p) :

"20 tahun adalah waktu yang tidak sebentar. Seiring berjalannya waktu, hati, sifat dan perasaan manusia bisa berubah. Kalau saja waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke 20 tahun yang lalu, ketika semua mimpi dan harapan kita masih sama"

lalu Ran bertanya kepada Conan "Apa benar perasaan manusia itu bisa berubah? perasaan manusia yang terpisah jauh, menyakitkan ya kalau hanya menunggu?"

Berubah, yaa semua hal di dunia ini bisa berubah, kalau kata judul lagunya Jikustik "Tak Ada yang Abadi", yaa begitulah kehidupan tidak ada yang abadi, roda kehidupan kita akan selalu berubah dan berputar selama nafas ini masih berhembus. Perasaan, sifat, harapan bahkan mimpi seseorang bisa berubah dalam waktu yang tidak pernah manusia sipemilik itu duga, entah itu dalam hitungan, detik, menit, jam, hari, tahun, entahlah (sambil mengangkat bahu). mmm tungguu-tunggu tadi saya tulis "manusia sipemilik" bukan! bukan manusialah pemilik semua itu (rasa, sifat, harapan, mimpi) tapi Tuhan Semesta Alam, Allah S.W.T. lah pemiliknya. yaa Dialah sang pencipta, manusia dengan segala yang dianugerahkannya, rasa untuk merasa, membentuk sifat kepribadian, fikiran untuk selalu mengukir harapan dan mimpi-mimpi. Dan Dia pulalah yang maha membolak-balikkan semuanya, hati dengan perasaanya, fikiran dengan harapan dan mimpinya.

Begitu juga dengan kehidupan saya belakangan ini, banyak sekali perubahan hidup yang saya alami, banyak sekali mimpi-mimpi saya yang berubah, banyak sekali orang-orang yang masuk dan keluar dengan cepatnya dalam kehidupan saya. Orang-orang itu seperti perantara perubahan dalam kehidupan saya, Alhamdulillahnya mereka semua memberikan perubahan yang positif, menjadikan saya pribadi yang lebih baik lagi, memberikan saya semangat untuk melakukan tindakan nyata dalam mewujudkan mimpi, bahakan mereka memberikan ide untuk menciptakan mimpi-mimpi baru.

Bicara soal perubahan mimpi, kalau lihat postingan sebelumnya tentang mimpi, betapa saya ingin kuliah S2 di luar negeri ke Aussie, lalu beberapa waktu kemudian saya ingin sekali kuliah di Jepang atau Belanda, bahkan saya tiba-tiba sangat tidak berminat sama sekali ke Aussie, dan kemudian entah dari mana perasaan itu muncul, tiba-tiba saya ingin sekali ke Inggris, kuliah di sana, di Oxford, di Cambridge. Padahal dipostingan saya sebelumnya tentang negeri impian, nama Inggris sama sekali tidak tertulis, tapi kenapa saat ini Inggris adalah tujuan utama saya untuk sekolah, semakin hari keinginan itu semakin besar dan menggebu, aahh Inggris.. Inggris, sampai-sampai saya pernah mimpi ke Inggris dalam tidur saya (ah semoga itu bertanda akan jadi kenyataan :D).

Dengan extrovertnya saya menceritakaan kesemua orang betapa besarnya keinginan saya untuk sekolah ke Inggris, dan berapa banyak orang meyakini saya mampu kesana. Aaah rasanya ketika mereka yakin aku bisa, perasaan inipun semakin yakin kalau aku bisa. Banyak yang mendoakan, Alhamdulillah :). Tapi lagi-lagi mimpi itu berubah drastis, Inggris masih tujuan utama, namun bukan satu-satunya tujuan untuk kuliah, dan akupun kembali pada mimpi beberapa tahun lalu, yakni ke Jepang. Walaupun keinginan ke Jepang tidak pernah mati, tapi sempat tertutup seluruhnya oleh Inggris, dan sekarang pengen ke Jepang lagi, Ritsumeikan University mungkin pilihan yang cocok dengan jurusan yang mau saya ambil kemudian :).

Ahh tuh kan suka berubah-berubah gitu, bahkan perubahan yang kembali ke masa lalu. Hmm, jalani saja, dengan apapun perubahan tujuan itu, yang penting adalah tidak pernah berhenti melangkah dan berlari untuk mencapai tujuan itu.

(lagi-lagi saya stuck di akhir tulisan, dengan akhir tulisan yang gantung)

wdm

Wednesday, 10 April 2013

Ini tentang Hujan, Aku, dan Kau


Mungkin kau sudah lupa, atau bahkan ketika itu kau pun tak tau kalo hari dimana hujan menahanmu di sana untukku adalah salah satu hari terindahku yang mengukir tentangmu. Masih teringat dalam ingatanku, hari itu hari Senin sore, ketika sisa-sisa hujan masih mengguyur Kota Depok. Aku melihatmu berjalan dengan alunan kaki perlahanmu, kemeja marunmu membuat Kau selalu nampak lebih tampan. Lalu apa yang bisa aku lakukan? hanya menguntit dan memandangimu dari belakang. Kau tahu? saat itu aku takut, takut jika punggung yang kulihat semakin menjauh dan menghilang. Ah sudahlah, tak usah diingat lagi, lima tahun sudah berlalu bukan? sudah waktunya untuk dilupakan! Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati ini, walau aku mencoba melupakan namun jika kau tak menghendaki aku lupa maka aku takkan lupa, maka kupinta padamu jika dia tak akan pernah kembali untukku, buatlah aku lupa, buatlah hati ini melepaskannya.

Astiandini

Friday, 15 March 2013

Sulit Membedakan


Ini bukan hal membedakan yang mana yang baik yang mana yang buruk, saya tahu sekali bagaimana membedakannya.. Tetapi yang menjadi masalah adalah, saya kesulitan untuk membedakan mana orang yang baik kepada saya dengan tulus atau hanya sekedar kepura-puraan kebaikan. Hal ini terkadang menjadi paradoks bagi diri sendiri, mengapa? suatu ketika, seorang teman menyampaikan, "dia kan gak suka sama kamu (sebut saja Dia nya si A)" (perlu dianulir, suka disini suka dalam definisi pertemanan bukan suka dalam definisi terhadap lawan jenis, dan kedua teman saya ini adalah perempuan, dan hubungan saya dengan keduanya sangat baik). Sontak saya tidak percaya apa yang dikatakan teman saya yang pertama, mengapa? karena selama ini hubungan saya dengan si A berjalan baik-baik saja, dia sangat berprilaku baik kepada saya, begitupun saya memberikan feedback yang serupa. Lalu apa asusmi yang perlu saya gunakan? 

Asumsi pertama, apakah teman saya yang pertama itu cemburu bila saya berteman baik dengan si A?
atau asumsi kedua, jika si A itu memang tidak menyukai saya, tetapi hanya pura-pura berprilaku baik?

Ah ini terkadang yang membuat saya bingung, sulit untuk membedakannya, karena saya selalu menganggapnya baik. Ketulusan dalam berteman yang saya miliki mungkin menutupi hal-hal buruk yang tidak pernah saya pikirkan.

Baiklah tak usah digubris, selama dia berprilaku baik, kita berikan perilaku baik yang lebih. Siapa tau dengan tindakan lebih itu jadi akan mengubah mindset nya dari tidak menyukai menjadi menyukai.