Time is Flow

Wednesday, 17 October 2012

Scandal of Jul Park - Part 2



Rangga hanya tersenyum melihatku, dia pun pasti tau alasanku kenapa aku tidak mau menyambut tangannya, yaaa karena tanganku kotor.

"Ooh Jul?" kata pemuda itu, akupun hanya mengangguk ketika dia menyebut namaku. "begini mba Jul" dia melanjutkan "saya di Taman ini, bukanny lagi cari perhatian orang-orang yang ada di Taman ini, teriakkan saya tadi pun tanpa saya sadari keluar begitu saja dari mulut saya saking kesalnya saya dengan apa yang sedang menimpa saya hari ini" Rangga memeperhatikanku sebentar kemudian melanjutkan "nah kalo mba Jul sendiri, sedang apa di Taman ini?"

Aku berfikir apa yang harus aku jawab, dia bertanya seperti itu karena memang benar-benar tidak tahu siapa aku atau hanya pura-pura tidak tahu dan ingin merendahkanku saja, tapi mungkin dia memang benar-benar tidak tau siapa aku, lalu aku putuskan untuk menjawab pertanyaannya dengan apa adanya "saya memang setiap hari di sini".

"oohh jadi udah agenda rutin yaa kamu kesini?" jawab Rangga.

"bukan agenda rutin lagi, saya memang tinggal disini, ini rumah saya"

Setelah mendengar ucapanku Rangga langsung melihat-lihat ke atas pohon dari pandangan matany "memang rumahmu disebelah mana?" tanya Rangga dengan masih tetap pendangan matanya melihat kesekeliling pohon yang ada di Taman.

"Ooh Tuhan, memangnya kamu pikir saya apa? dedemit? dedemit yang tinggal di atas pohon?" jawabku geram "saya tinggal di bawah pohon, bukan di atas pohon, tuh di sana" jawabku sambil menunjukkan bangku taman yang terbuat dari semen, panjangnya hanya sekitar satu meter setengah dan memang bangku itulah yang kujadikan sebagai tempat tidurku yang paling nyaman selama lima tahun ini.

Pernah sesekali aku mencoba tidur di kasur empuk waktu diminta untuk menemani Eyang Uti yang rumahnya persis di depan Taman ini, memang empuk dan nyaman sekali, tapi realita menyatakan kasurku di sini, di bangku semen Taman ini bukan di kasur empuk itu.

Rangga sadar ucapan Jul barusan itu serius, dan untuk meyakinkan kebenarannya Rangga kembali bertanya "kamuu beneran tinggal di sini?"

Aku hanya mengangguk meng-iyakan

"kamu gak punya tempat tinggal?"

aku kemudian kembali mengangguk.

Tentu saja Rangga tidak menyangka, sebagai anak jalanan aku cukup menjaga kebersihan tubuh dan pakaianku dibandingkan anak jalanan lainnya, minimal aku mandi sekali dalam sehari dan berganti pakaian sekali dua hari apabila tidak terlalu kotor, walaupun aku malas untuk sisiran makanya kupotong bondol saja rambutku tapi dua hari sekali aku keramasi biar wangi.

Eyang Uti selalu mengajarkanku untuk selalu menjaga kebersihan dan dia suka memberiku baju-baju bekas anaknya dulu yang masih bagus-bagus dan beberapa kali aku pernah dibelikannya baju seharga 400 ribu, baju terbaik dan termahal yang aku punya, aku baru memakainya 2 kali, yang pertama ketika aku memakainya di hari ulang tahunku dan yang kedua kukenakan saat menghadiri pemakaman Eyang Uti tiga tahun lalu.

Setelah Eyang Uti meninggal, baju itu tak pernah aku kenakan lagi dan kusimpan dengan rapih di dalam tas selempang yang selalu kubawa kemanapun dan hampir tak pernah kulepaskan dari tubuhku, karena disitulah hartaku yang paling berharga tersimpan. Setahun setelah kematian Eyang Uti, keluarganya pindah keluar negeri dan rumah itu di jual, penghuni barunya adalah pengantin baru yang sampai tahun kedua pernikahannya belum juga diberikan keturunan.

"Yaa beginilah hidupku, anak jalanan, gak punya rumah, orang tua entah dimana masih hidup atau sudah matipun aku tidak tau" kataku miris.

"hmmm, sudah lima tahun di sini, gak nyari tempat lain untuk tinggal, klo anak jalanankan biasanya tinggal dimana aja dan pasti selalu berpindah-pindah, emangnya gak di usir kantip klo tidur di sini?" Tanya Rangga

Aku tertawa mendengar ucapannya, dan menjelaskan sekali lagi kepada Rangga "kan tadi sudah saya bilang, ini rumah saya, gak ada yang berani mengusur saya dari sini dan aku sudah betah gak ada niat sedikitpun untuk pindah rumah :D" ucapku bangga. 

Aku senang bermain dengan anak-anak di sini, saling bersapa ramah dengan ibu-ibu muda, dan menjadi pendengar yang baik dari ocehan-ocehan para nenek-nenek dan kakek-kakek yang mengisi taman disetiap sore, yaa kalau bukan aku yang mau mendengarkan keluh kesah para manula itu lantas siapa lagi? Anak mereka saja sudah sibuk bekerja, tak ada waktu untuk mendengarkan ocehan-ocehan yang tidak penting dari mereka, dan cucu mereka pun layaknya anak muda di jamannya, bermain bersama temannya, pacaran, melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Kalaupun ada cucu mereka yang masih balita apa akan mengerti dengan apa yang di keluhkan oleh sang manula itu. Dan tak jarang aku dan mereka tertawa bersama, mereka sangat baik kepadaku, bisa menerimaku, bahkan kantip yang dibilang Rangga akan mengusirku itu sudah sangat akrab denganku dan mengizinkanku untuk menjadi penghuni Taman ini, yaa mereka memang harus mengizinkanku tinggal di sini, ini fasilitas umum yang dibuat pemerintah untuk rakyatnya, kalau mereka mengusirku dari sini memangnya pemerintah mau bertanggung jawab dengan membangunkanku sebuah tempat tinggal? peduli apa para pemerintah itu, cih.. Lagipula di taman ini aku bukan hanya sekedar makan dan tidur saja tapi aku juga turut serta menjaga taman ini, merawat tanaman-tanaman disini, menjaga kebersihan taman ini. Bahkan orang-orang disini menamai Taman ini dengan sebutan "Jul Park" Taman Jul, hahahaaa luar biasa bukan? 

"Oohh baiklah kalo memang itu sudah keputusanmu :)" Rangga tersenyum dan terdiam.

Sepertinya Rangga kehabisan kata-kata untuk berbicara padaku, atau mungkin dia merasa jijik denganku setelah ku beri tahu siapa aku di Taman in. Untuk menepis keheningan aku melontarkan sebuah pertanyaan yang memang sedari tadi aku ingin tanyakan ke pemuda itu yaaa ke Rangga, akupun mulai memberanikan diri bertanay "saya boleh tanya mas Rangga?" 

Rangga menoleh ke arahku dan lagi-lagi tersenyum dan berkata "tentuu saja boleehh, apa? apa yang ingin kamu tanyakan sama saya?" jawab Rangga dengan ramah.

Bersambung...


Sunday, 14 October 2012

Bangga Jadi Orang Indonesia, "Indonesia dari Pandangan Seorang Singapore : Copas dari blognya Imperium III

Saya baru menemukan cerita luar biasa ini di internet.

Sepertinya sudah lama beredar dan ternyata sudah sangat populer. Tidak ada yang tahu siapa yang menulis cerita ini, jadi penulisnya agak-agak misterius. Tapi ceritanya memang benar-benar menyentuh dan luar biasa, membuat kita kembali bangga jadi orang Indonesia. Membuat kita rindu kembali pada Indonesia. Selamat menikmati cerita ini.

Cerita seorang Backpacker Indonesia bersama seorang Singapore..

... Suatu pagi di Bandar Lampung,

kami menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak. Si bapak adalah pengusaha asal Singapura, dengan logat bicara gaya melayu, english, (atau singlish) beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..
"Your country is so rich!".

Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu.. "Indonesia doesn't need the world, but the world needs Indonesia", "Everything can be found here in Indonesia, u don't need the world", "Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia !".
"Singapore is nothing, we cant be rich without Indonesia. 500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura setiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami, apartemen2 dan condo terbaru kami yang membeli pun orang2 indonesia, ga peduli harga yang selangit, laku keras.
"Lihatlah rumah sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat." "Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, benar2 panik. sangat terasa, we are nothing."
"Kalian ga tau kan klo Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia, kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras". "Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari malaysia.
Saya pernah ke Kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disana menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya sendiri".
"Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo.
Harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri. Tak perlu kalian impor klo bisa produksi sendiri."
"Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia will rules the world.."



* * *

"Indonesia will rule the World"...

Wednesday, 5 September 2012

Harvard Project for Asian and International Relation


Pernahkah teman-teman mempunyai suatu keinginan besar dan kemudian itu terwujud? Saya yakin pasti sebagian besar dari kalian pernah mengalaminya ketika kalian benar-benar berusaha untuk mewujudkannya bersungguh-sungguh dan fokus dengan pencapaian itu. Begitu juga dengan saya. Saya memiliki keinginan di mana saya menginginkan suatu perubahan besar dalam diri saya yakni selama saya masih duduk di bangku kuliah saya bisa menjadi delegasi Indonesia dalam dunia Internasional salah satunya adalah konferensi  internasional yang diadakan oleh Harvard University dalam programnya yakni HPAIR (Harvard Project for Asian and International Relatioan) further infonya bisa dilihat langsung di sini www.hpair.org. Menjadi delegasi HPAIR di tahun 2012 ini adalah target saya, dan sudah tertulis di buku agenda saya.

Dari mana saya tahu tentang konferensi internasional tersebut? Dulu saya pernah memiliki seseorang yang saya suka dan saya kagumi. Dari dialah saya mengetahui tentang acara ini, dimana dia pernah  menjadi delegasi Indonesia dalam konferensi HPAIR tersebut beberapa tahun yang lalu. Seperti yang pernah saya tuliskan dalam beberapa postingan saya sebelumnya, pemuda tersebut adalah sesosok pemuda yang mmmm luar bisa dalam perspektif saya. Dari dialah saya banyak mendapatkan wawasan, pelajaran, ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang mengaggumkan, yah walaupun itu semua saya dapatkan secara tidak langsung. Saya mempelajari tentang kehidupannya melalui pengamatan saya sendiri yang saya dapatkan dari sosial media atau sumber informasi yang bisa dipercaya. Nah berawal dari situlah saya ingin tahu tentang segala hal yang belum pernah saya sentuh dalam kehidupan saya, ingin mencobanya, mengalaminya, mempelajarinya dan menjadi bagian dari pengalaman yang luar biasa tersebut. Saya melakukan pembenaran dari sebuah statment yang saya dapatkan dari Tumblrnya kak Kuntawi Aji, yang menyatakan bahwa “terkadang Tuhan mendatangkan seseorang dalam kehidupan kita bukan untuk kita miliki, melainkan untuk memberikan pelajaran lalu kemudian pergi” saya rasa statment itulah yang sedang saya alami saat ini, ketika dimana pemuda yang saya idam-idamkan itu hadir, memberikan pengetahuan dan pembelajaran dan sesudah saya tahu dan melek akan dunia itu luas dia pun pergi, menjauh dari kehidupan saya. Dan mungkin dalam waktu yang cukup lama dia akan menetap di negeri orang.

Dari semenjak dia menjadi delegasi HPAIR ini saya pun juga ingin menjadi salah satu delegasinya. Bertahun-tahun saya ingin mencoba tetapi betapa takut dan tidak percaya dirinya saya untuk memulai semua itu karena saya tahu ada keterbatasan diri saya yang tidak memungkinkan diri saya untuk terjun dalam dunia Internasianal. Alasan klasiknya adalah saya tidak fasih berbahasa inggris dengan baik, bahkan untuk tingkat menengahpun saya rasa saya belum mencapainya. Hingga pada suatu ketika saya dipertemukan dengan seorang dosen senior di dalam beberapa mata kuliah saya, beliau selalu memberikan wejangan kepada mahasiswanya bahwa kita harus bersungguh-sungguh dalam  belajar, bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, bersungguh-sungguh dalam mewujudkan apa yang kita inginkan dan kita cita-citakan dan bersungguh-sungguh dalam semua hal dalam seluruh aspek yang kita jalani dalam kehidupan ini. Kata-kata bersungguh-sungguh itulah yang menggetarkan hati saya untuk bernai mencoba untuk merealisasikan sesuatu yang saya impikan.
Dan hingga pada akhirnya, beberapa bulan yang lalu ketika saya meregistrasikan akun saya di web HPAIR dan mendapatka informasi bahwa HPAIR akan mengadakan konferensi di Taipei, saya mencoba mendaftarkan diri sebagai delegasi HPAIR dari Indonesia. Awalnya saya ragu, karena masih dengan satu alasan yang sama yakni kemampuan komunikasi inggris saya, tetapi karena seorang teman yang baru saya kenal bernama Fajar yang juga mendaftarkan diri sebagai delegasi HPAIR yang memberikan saya sebuah semangat, memberikan saya motivasi dan keyakinan pada diri saya untuk mencoba mencoba dan mencoba mendaftar walaupun hanya dengan bermodal nekad dan tekad. Seleksi administrasipun saya ikuti dengan isian sekedarnya, yang mana sekedarnya itu adalah kemaksimalan kemampuan saya. Betapa terkejutnya saya dan senang bukan main ketika sebulan kemudian pihak HPAIR mengirimkan saya sebuah e-mail untuk melakukan wawancara melalui Skype, hal ini memberitahukan bahwa saya lolos seleksi administrasi dan proses seleksi berikutnya adalah wawancara. Setelah sepakat menentukan kapan waktu dan tanggal wawancara, saya segera menghubungi teman saya Riza untuk menemani saya ketika wawancara berlangsung, karena faktor takut. (sebenernya untuk seleksi wawancara ini ada sedikit kendala, tapi saya rasa tidak perlu di paparkan, bukan karena tidak penting tapi karena faktor malu :D).
Oke baiklah waktu pengumuman akhir telah tiba setelah beberapa lamanya menunggu, satu pesan e-mail dari HPAIR pun saya terima yang menyatakan :



Kalian pasti sudah tahu bagaimana perasaan yang saya rasakan saat melihat dan membaca rangkaian kata demi kata dari pesan itu, perasaan yang tidak bisa saya ungkapkan, tidak bisa saya jabarkan dan paparkan dalam sebuah bentuk tulisan. Bahagia luar biasa, bersyukur luar biasa kepada Allah S.W.T. Saya masih sungguh sangat tidak percaya dengan keputusan yang panitia HPAIR buat yakni meloloskan saya dalam seleksi ini, saya bisa lolos dalam persaingan internasional. Kedua orang tua saya, teman-teman saya ikut senang dibuatnya. Satu hari setelahnya LoA (Letter of Acceptance) atau surat/undangan resmi dari HPAIR untuk saya pun saya terima. (Terima kasih kepada Bapak Waluyo yang telah mengajari saya tentang hal bersungguh-sungguh, salam hormat)




Setelah seleksi yang memainkan ribuan perasaan itu berakhir, hal selanjutnya adalah mencari teman yang juga di terima sebagai delegasi HPAIR dari Indonesia. Satu persatu teman saya dapatkan, dari berbagai daerah dari berbagai universitas dan dari berbagai negara, Alhamdulillah lancar. Hal selanjutnya yang harus dipikirkan dan dilakukan adalah bagaimana mencari pihak-pihak yang bersedia mensponsori kita untuk berangkat konferensi yang akan di selenggarakan di Taipei pada tanggal 24-24 Agustus 2012 lalu ini, inilah hal yang paling penting diantara hal penting lainnya karena biaya acara ini ditanggung sepenuhnya oleh delegasi. Dalam waktu dua minggu paling tidak kami harus bisa mendapatkan dana sebesar biaya pendaftaran atau registrasi ulang yang mana batas pembayaran terakhir jatuh pada akhir bulan Juni.
Selama dua minggu itu saya mencoba mencari-cari info tentang perusahaan-perusahaan yang memungkinkan untuk memberikan sponsor, menyebarkan proposal ke sebanyak-banyaknya instansi yang saya bisa seperti yang dipesankan teman saya Fajar, sayang Fajar tidak diterima sebagai delegasi padahal saya percaya kemampuan dia jauuhh melebihi saya, dia pernah ikutan konferensi internasional juga sebelumnya, pasti dia lebih berpengalaman dari saya, tetapi kenapa saya diterima dia tidak? hanyalah Allah S.W.T yang tahu akan jawaban itu. Karena keterbatasan waktu dan biaya, proposal tersebut saya sebarkan melalui e-mail perusahaan, walaupun ada juga yang saya kirim langsung seperti ke departemen jurusan, fakultas dsb.

Dalam proses pencarian sponsor, saya berkenalan dan bertemu dengan beberapa anak UI yang juga diterima sebagai delegasi HPAIR yakni Alya (FE), Vinda (FISIP), Bestari (FE), dan Merisa (FIK) selain itu ada juga Gladis (FK) tapi dia dari USU. Akhirnya kami memutuskan membuat suatu tim kecil untuk mencari sponsor, terutama untuk ke bagian mahasiswa kampus. Setelah data masing-masing dari kami dikumpulkan, jadi lah sebuah proposal, proposal ini telah rampung di H-5 dari registrasi pembayaran. Ketika desain dari proposal kita itu mau di bawa ke percetakan, saya jadi ragu apakah dalam waktu kurang dari satu minggu bisa mendapatkan sponsor? sedangkan biaya yang dibutuhkan untuk registrasi itu cukup besar i.e US$375 dan untuk bayar registrasipun uang tabunganku belum mencukupi. Akhirnya dari pada nantinya akan sia-sia, sebelum proposal itu dibawa ke percetakan dan di cetak banyak saya memutuskan untuk mundur dari tim kecil ini. Karena aku tau aku tidak bisa menalangi untuk biaya pendaftarannya terlebih dahulu. Kedua orang tua saya padahal mau membantu membiayai, tapi saya-nya yang menolak, sebab bulan ini berbarengan dengan pembayaran kuliah yang mana notabene nya bayar kuliah ekstensi itu mahaaaalll, melebihi biaya S2 per-semester di rumpun ilmu sosial dan di tambah lagi orang tua saya yang sudah pensiun, manaa tegaa saya. 


Tadinya saya juga sempat bingung, antara terima tawaran orang tua atau tidak terima, tapi akhirnya saya dimantapkan oleh salah satu teman saya untuk menolak tawaran itu, dia bilang seperti ini "kalau ragu ga usah diterusin, gitu aja.. seberapa besar keuntungan ini program buat masa depan lu, sebanding ga dengan pengorbanannya". Tidak perlu pemahaman dua kali atau berfikir dua kali lagi untuk menolak, saat membaca pesan dari Ermy ini hati saya mantap untuk mundur dari tim dan menolak tawaran orang tua. Tetapi walau sudah mundur dari tim itu saya tetap masih berusaha mencari sponsor semampu saya, sampai batas waktunya berakhir. Dan sudah bisa ditebak, untuk kali ini saya tidak dapat memanfaatkan kesempatan konferensi internasional untuk pertama kalinya.


Tetapi ini semua bukanlah suatu kegagalan buat saya, melainkan suatu pengalaman berharga, suatu awal yang mengagumkan seumur hidup saya bisa tembus ke dunia internasional dan tercapainya target saya untuk bisa menjadi delegasi HPAIR di tahun 2012 walaupun akhirnya tidak bisa berangkat ke Taipei untuk menghadiri konferensinya. Ini merupakan awal yang baik akibat dari bersungguh-sungguh. Dengan ketidak mampuan saya menghadiri konferensi itu, memberikan pembelajaran kepada saya, bahwa kita tidak bisa hanya mengandalakan sponsor saja tetapi juga harus punya modal pribadi. Jadi pesan saya untuk teman-teman adalah, kalau ingin mengikuti konferensi internasional kita juga harus mengumpulkan modal terlebih dahulu dan itu bisa di dapat dengan kerja kerja kerja. Dan dengan hal dimana saya bisa lolos seleksi HPAIR ini adalah pembuktian dari Allah bahwa saya mampu dan bisa untuk belajar ke luar negeri nantinya, ke INGGRIS..INGGRIS..INGGRIS... :D aamiin ya Allah..

Sekarang yang harus saya lakukan adalah melakukan perbaikan diri, belajar..belajar..belajar..  memperbaiki bahasa inggris, mengumpulkan modal, mencari beasiswa dan tentu saja harus menambah wawasan dengan baca..baca..baca.. Juga tidak lupa untuk selalu berdoa dan bersungguh-sungguh.

nb : dari tim kecil itu yang jadi berangkat hanya 3 orang i.e Merisa, Gladis dan Bestari.

Regards,

Friday, 31 August 2012

Scandal of Jul Park - Part 1


Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, dengan langkah gontai, di bawah hujan gerimis yang membasahi di beberapa sudut kota sore ini, siapa gerangan, sosoknya yang gagah, nampak tampan dengan berbalutkan kemeja merah hati, mengenakan celana bahan hitam dan sepatu pantofel yang masih berkilauan dan bisa ditebak kalau sepatu itu pasti baru di beli sehari yang lalu atau paling tidak lamanya seminggu yang lalu, pemuda itu cukup tinggi, mungkin aku hanya mencapai bahunya. Dia berjalan dengan gontai, sungguh sangat tidak seimbang dengan perawakannya. Tak biasanya ada karyawan yang singgah di taman saat jam pulang kantor, padahal setiap pegawai, karyawan atau para pekerja lainnya ingin selalu segera sampai dirumah, tapi tidak dengan pemuda itu. 

Aku yang setiap harinya ada di taman baru kali ini melihat pemandangan itu, biasanya jika sore hari seperti ini, taman hanya diisi oleh anak-anak yang bermain bola, ibu-ibu yang menyuapi anaknya atau para orang tua lanjut usia yang sedang bermain dengan cucu mereka. Tapi sore ini lain, ada sesosok pemuda berpakain rapih yang bisa ditebak kalau dia sudah bekerja, "ah mungkin dia sedang ada janji dengan seseorang, "mmm kencan pertama mungkin" pikirku, "tapiii... aahhh tidak..tidak.. sepertinya pemuda itu bukan sedang menunggu seseorang tetapi seperti sedang menunggu jawaban, yaa jawaban, teppaatt, jawaban dari keresahan hidupnya, semuanya terbaca olehku dari raut ekspresinya dari cara dia memainkan keningnya, matanya, atau kepalanya yang sesekali melihat ke atas kemudian menghela nafas sambil melemparkan pandangannya ke bawah.

Aku penasaran, lalu perlahan ku ayunkan kakiku menuju tempat pemuda itu berjalan mondar mandir bak orang kebingungan, menimbang-nimbang dan sesekali dia menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan apa yang ada dalam pikirannya. Tak terasa ayunan kaki ini semkin lama semakin dekat, dan entah kenapa jantung ini berdegup, semakin mendekati, degupan jantung ini pun semakin kencang.

Tak kurang dari tiga langkah lagi mencapai pemuda itu tiba-tiba "Aaaaaaaarrrrrrggghhhhttttt....." pemuda itu berteriak sangat kencang sambil menghentakkan tangannya ke udara yang semula digunakan untuk menyandarkan kepalanya. Tentu saja kejadian itu sangat mengagetkanku, aku spontan memberhentikan langkahku dan menstabilkan degupan jantungku yang dipicu oleh teriakkannya itu, sambil membisu dan sesekali menarik nafas dan menghelanya pelan. Benar perkiraanku, dia bukan menunggu seseorang, tapi menunggu jawaban.

Setelah beberapa detik terjadi keheningan karena teriakannya, aktivitas para pengunjung taman kembali normal yang sempat berhenti karena mengalihkan perhatiannya pada pemuda itu. Akupun memutuskan untuk kembali ketempat semula dan mengurunkan niatku untuk menyapa pemuda itu, aku membalikkan badanku dan berjalan perlahan ketempat tadi aku bersantai. Tapi, aku kembali berfikir "jika aku tidak menghampirinya dan menanyakan apa yang sedang dia permasalahkan aku akan jadi penasaraaann dan terus penasaran, mungkin aku tidak bisa tidur dua malam karena memikirkanya, "ah sial...!". 

Akhirnya aku membalikan kembali tubuhku ke arah pemuda itu, dan dengan langkah yakin aku menghamprininya, hanya berjarak kurang lebih 80cm dari pemuda itu aku kemudian langsung menge-judge nya "lagi stress ya mas? atau lagi cari perhatian orang-orang di sini dengan berteriak kencang kayak tadi?" mendengar perkataanku, pemuda itu melihat kearahku sambil mengerutkan dahi diantara alis kanan dan kirinya, yaa ekspresi menanyakan maksud perkataanku barusan. Akupun terdiam dengan ekspresi tercengang takjub, pemuda itu sangat tampan, mampu memicu jantungku untuk berdetak lebih kencang, bahkan sangat kencang. 

"Bicara sama saya?" pemuda itu bertanya kepadaku sambil menunjuk dirinya sendiri.

"coba mas liat kiri kanan mas! emangnya saya gila?" jawabku sedikit intonasi tinggi. Pemuda itupun langsung melihat kiri dan kanannya, dan tidak satupun wujud yang dia temui selain aku di situ, lalu tiba-tiba pemuda itu tertawa lebar tanpa suara, aku pikir dia akan menjawab ketus ucapanku tadi, tapi ternyata dia tersenyum. 

Yaa Tuhan, benar-benar tampan pemuda ini dan senyumnya mampu menggetarkan sanubari jantungku, sambil menyembunyikan perasaanku yang tak karuan aku berkata kepada pemuda itu "kenapa ketawa? emangnya ada yang lucu?, saya serius..". 

Pemuda itu tertawa lagi, kali ini mengeluarkan suaranya dan kemudian berkata "nah justru itu, keseriusanmu yang membuat saya tertawa.. itu sungguh lucu" pemuda itu tertawa lebih kencang, mentertawakanku, apanya yang lucu, dia pikir aku dagelan? aaarrgghhsshhiitt...!.

Melihat raut mukaku yang geitr, pemuda itu melanjutkan "saya Rangga" sambil menjulurkan tangan kananya kepadaku, aku tersentak "maaf deh kalo ketawa saya tadi membuat mba ini kesal, saya hanya cari hiburan dari kesuntukkan saya hari ini" pemuda itu melanjutkan. 

TEPATT..!!!! dia anggap aku ini memang dagelan dibuatnya, tapi apa dayaku, kemarahan ini seketika hilang dengan sebuah senyuman dan uluran tangan dari pemuda itu, dan yang membuatku terheran, kenapa dia mau bersalaman denganku, menjabat tanganku, menyentuh tanganku yang kotor dengan kuman, aku tak sebanding dengannya, dia tak pantas menyentuhku, dia tak boleh terkena kuman yang menempel di sela-sela jemariku bahkan di setiap titik garis tanganku.

"guee Jul.. Julaiha, tapi panggil aja Jul" jawabku sambil membuang muka melihat ke sekeliling taman karena gugup dan tanpa membalas sambutan tangannya.

Bersambung...


Thursday, 23 August 2012

Lebaran vacation = pulang kampung


Seumur hidup setiap lebaran itu saya ga pernah yang namanya pulang kampung, tapi bukan berarti saya penduduk asli Jakarta, hanya saja sesepuh saya alias mbah buyut saya yang tinggal di Jawa sudah tak ada lagi sedangkan mbah saya yang dari kedua orang tua saya semuanya tinggal di Jakarta, merekapun kini telah tiada, hhiikksss. So sehubungan kedua orang tua saya anak tertua yang mana pengganti orang tua, alhasil setiap lebaran seluruh keluarga besar Marseno (keluarga Bapak) maupun Soedalmo (keluarga Ibu) kumpulnya di rumah, pastinya rumah jadi sangat ramai dan tentunya masak ketupat beserta teman-temannya selalu dalam porsi besar.

Well balik lagi ke masalah pulang kamu, udah dua kali lebaran, tahun lalu dan tahun ini saya dan kakak saya (Mba Tiwi) pulang kampung tapi pulang kampungnya ke kampung orang, lhoo kok bisaa?? iyaa jadi kampungnya itu kampung punya sepupu saya Pipit dan Puput, lokasinya di Brebes sekitar 314km dari Jakarta, karena berangkatnya malam pas hari H lebaran jadi Jakarta-Brebes bisa di tempuh dalam waktu 4-5 jam, cepett yaa dibandingkan berangkatnya sebelum hari H lebaran. Jadi kemarin tuh habis lebaran di rumah, pagi-pagi buta esokkan harinya kami berangkat ke Brebes tepatnya ke Desa Kersana.

Kami sampai disana sekitar pukul delapan pagi, yang utama kita cari adalah kassuurr, hehehe.. yup kami ngantuk banget dan cukup lelah di perjalanan jadi wajar kalo yang di cari pertama adalah kasur. Di Desa Kersana, udah ada beberapa perubahan, tahun lalu di depan rumah Mbah Sukarman (red : Omm Mulyono father, Pipit & Puput grandfather) itu masih ada sawah dan kebun-kebun gitu, sekarang tempat itu lagi di bangun untuk bendungan. Padahal menurut saya, sayang banget kalo sawahnya di gusur padahal desanya jadi terlihat labih asri klo pemandangannya itu sawah dan kebun.

Di sana kami gak lama cuma dua hari satu malam, sebab Oom Mulyono (red: Pipit & Puput father) ada panggilan apel hari Rabu paginya. Hari pertama disana di isi dengan acara tahunan keluarga besar Mbah Sukarman. Acaranya itu berbentuk arisan keluarga yang di adain tahunan, memang sederhana tapi dampak yang di timbulkannya lebih dari sederhana, yakni luar biasa. Bayangkan acara arisan ini bisa mempersatukan dan mempererta jalinan silaturahmi dalam satu keluarga besar yang sekarang tempat tinggalnya terpencar ke berbagai daerah, ada yang di Jakarta, Tangerang, Cirebon, dan Tegal. Acara yang biasanya diadakan H+1 di Desa Kersana ini mewajibkan seluruh anggota keluarga yakni anak-anaknya Mbah Sukarman hadir dalam kumpul keluarga ini, inilah yang membuat keluarga Mbah Sukarman menjadi harmonis dan solid. Setelah acara selesai, kami pergi ke makam mbah-mbah dan saudara-saudara yang sudah tiada, makamnya ga jauh dari rumah, mungkin hanya 20 meter, kami mengirim doa bersama disana. Sehabis dari makam, kami main ke bendungan yang masih di garap itu, dari sana bisa terlihat pemandangan sunset loh. Dari banyaknya keluarga yang berkumpul, saya jadi punya tambahan kenalan saudara, ada Ari & Nana (anaknya Pakde Kismo), ada Jafar beserta 2 adiknya (anaknya Lik siapa yaa, lupa hehe), ada Yudha (anaknya Bulik Warni) yang setia jadi photografer kita disana, ada Rendra & Rizky (anaknya Oom Yudi) yang lucu-lucu banget dan ada Yurin (anaknya Oom Kusrin) yang lucu dan punya rambut kriting spiral.

Malam harinya, kami menikmati pesta kembang api, di sana banyak yang nyalain kembang apa yang melemparkan bunga apinya di angkasa. Ternyata Oom Mulyono bawa kembang api serupa, semakin ramai saja pesta kembang apinya, yeeaahh sangat menyenangkan. Setelah semua kembang api habis dinyalakan, kami lanjutkan dengan bercengkraman bersama keluarga, kami ngobrol membahas apa saja yang bisa dijadikan bahan obrolan. Hari semakin larut, udah banyak yang menuju alam mimpi, tapi saya, Pipit, Puput dan Yudha malahan nonton film di laptop kepunyaan Yudha. Film yang kami tonton ga banyak, cuma dua, dari film yang bikin kami tegang karena action nya Fast and Furious 5 sampai diredakan dengan film Johnny English Reborn yang bikin kami ketawa-tawa. Setelah film kedua selesai ditonton, saya, Pipit dan Puput bergegas untuk mengikuti yang lainnya yakni menuju alam mimipi, meninggalkan Yudha di ruang tamu bersama laptopnya dan Oom Mulyono yang sedari tadi menemani kami nonton tetapi sambil tidur :)

****

Malam berganti pagi lagi, pagi hari di hari kedua di sana gak banyak yang dilakukan, hanya aktivitas biasa saja (ngobrol, nonton tv, makan, dan tak lupa foto-foto :)). Oh iyaa tapi ada satu hal yang kami lakukan di pagi hari yang bikin berkesan, yakni menyembelih ayam, yup Mbah Sukarman punya ternak ayam sendiri loh, jadi lauk untuk sarapan pagi ini adalah ayam dari kadang sendiri, wahh asik yaa. Sekitar jam sepuluhan, tadinya saya, Pipit, Puput dan Mba Tiwi mau ikut nganter Bude Kismo, Ari juga Nana pulang ke Tegal (Pakde Kismo-nya udah pulang duluan ke Tegal kemarin sore) tetapi ternyata mobilnya gak cukup, jadi cuma Oom Yudi dan keluarga juga Yudha saja yang nganter ke Tegal. 

Hari ini rencana kita mau pulang ke Jakarta, berangkat sehabis maghrib karena besok paginya Oom Mul harus apel, tetapi ternyata telor asin pesenan Omm Mul belum matang dan matangnya sekitar jam sembilan malam. Akhirnya sambil menunggu telor asin itu masak, kami bersilaturahmu ke rumah Mbah Subekti dan kedua kakak perempuannya (lupa namnay mbah siapa ;)). Letak rumah mbah-mbah ini dekat sekali dari rumah Mbah Sukarman, mungkin ga sampai 50 langkah kaki juga sudah tiba di rumah mereka. Setelah asik melahap kue-kue di rumah mbah-mbah itu, waktupun menunjukan pukul sembilan lewat, kami bergegas kembali ke rumah Mbah Sukarman dan menyiapkan barang-barang untuk kembali pulang ke Jakarta. Setelah semua barang-barang masuk mobil dan berpamitan pulang, berangkatlah kami menuju Jakarta.

Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, kami sempat singgah dulu di Cirebon, mengantar Bulik Warni dan Yudha ke kediamannya. Hanya memakan waktu satu jam untuk sampai di Cirebon dari Brebes. Sesampainya disana, Oom Mul dan Tante Didin (Pipit & Puput mother) sejenak merebahkan badannya dari rasa lelah dan kami sempat menikmati teh hangat, kue dan masakannya Bulik Warni loh. Sambil menunggu Oom Mul dan Tante Didin selesai beristirahat, kami bercengkraman membahas kemana Yudha akan melanjutkan studinya nanti yang sekarang dia sudah kelas tiga SMA. Kalau ayahnya, ingin dia masuk ke pendidikan kepolisian, STPDN, STTD atau jadi Pilot, terus si Pipit & Puput mempromosikan UGM tempat sekarang mereka kuliah dan tentu saja aku juga menghasut Yudha untuk kuliah di UI. Pasti si Yudha semakin dilema mau pilih yang mana, sedangkan saat di tanya dia minatnya dimana, Yudha bilang belum tau, "masih gelap" katanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi, ketika Oom Mul terbangun dari tidurnya berkata "klo tadi ga bangaun sendiri, sampe jam empat pagi juga ga ada yang bangunin ini" hehehe. Karena di kejar waktu, langsung saja kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan pulang. Akhirnya setelah empat jam perjalanan, tibalah kami di Jakarta, tiba di rumah, bersih-bersih dan kemudian tidur :)

sekian
*lebaran kali ini sungguh sangat berkesan, saya jadi bisa merasakan suasana pulang kampung :D

nb: fotonya belum bisa di upload karena masih nunggu kiriman email dari Yudha, nanti setelah saya terima foto-fotonya dari Yudha akan segera saya upload :)